Sabtu, 29 Oktober 2016

Terlahir Jahat Bagian 1

Desember tahun lalu ku tulis semua resolusiku
Salah banyaknya tentang kamu
Aku anggap, awal tahun itu aku akan membaik
Setelah ku pastikan kau putus dengan pacar kilatmu
Ya, ku sebut kilat karena hanya sebulan haha kasian
dan jika boleh aku sok tahu, aku tak yakin kau benar2 ingin bersamanya

Mungkin sebagian orang yang membaca ini akan berasumsi "dih apaan sok tahu"
Aku ini sok tahu, bahkan tidak hanya sok tapi sok paling tahu
Padahal bukan Tuhan

Ah, sedikit ku bocorkan kenapa aku ini sok paling tahu
Aku suka sekali mengamati
Aku suka sekali berasumsi
Aku suka sekali sosial media
Ah terlalu basa-basi
Intinya aku sok tau karena aku suka stalking


Oh sebentar, barang kali stalking itu negatif
Bagaimana jika ku ganti dengan kata "riset"
Lebih mengedukasi bukan?
Kurasa begitu
Sebab itu sering ku dengar dari guru besarku

Pembicaraan ini terlalu jauh ngelantur,
Mari kembali pada cerita kita
Eh Maaf, ceritaku
Ini tentang aku, bukan kamu

Berlanjut besok.................................

Minggu, 14 Agustus 2016

Tak Cukup Obama

Tak Cukup Obama


     Matahari beranjak ke peraduaannya, hari mulai gelap kereta ekonomi Matarmaja telah tiba di stasiun Pasarsenen setelah melakukan perjalanan panjang dari kota Malang. Aku turun dengan barang bawaanku dan bergeges menuju pintu keluar. Diluar stasiun, aku disuguhkan dengan pemandangan yang sering aku jumpai saat naik kereta seperti ini. Orang-orang berlalu lalang menawarkan jasa mereka. Jasa ojek, becak, angkot atau taxi. Ada pula yang menawarkan diri untuk membawakan barang bawaan. “Mas becak mas, buk Taxi buk, mau kemana mas? Ojek pak murah”. Suara mereka saling beradu satu sama lain, membuat bising tapi cukup berirama. Aku menolak pelan ketika ada yang menawariku. “Sungguh hebat orang-orang ini, dari pagi hingga pagi lagi tak pernah lelah dan berhenti menawarkan walau banyak yang menolak, tuntuan hidup di Jakarta”. Pikirku dalam hati. Aku berjalan menuju ke utara dan menoleh kanan kiri mencari sosok lelaki paruh baya yang menjemputku. “Don”, teriak seorang lelaki dari ujung jalan. Aku segera menoleh ke sumber suara itu. Diujung sana kulihat sosok lelaki berbadan gemuk dan sebuah senyum yang mengembang manis di wajahnya. Dialah pakde Jarwo. Pakdeku yang tinggal di Jakarta, kampung rambutan tepatnya. Dan akan ku tumpangi rumahnya hingga masa berkelanaku usai.

***

    Dua minggu sudah Bima menjadi pengamen cilik. Sore hari sepulang sekolah Ia menuju perempatan Menteng untuk menukarkan suara paraunya dengan kepingan rupiah. Tidak hanya Bima, teman seumuranya pun banyak yang melakukan kegiatan serupa. Berbeda dengan teman-temannya, Bima mengamen bukan karena ingin menambah uang jajan atau untuk keperluaan sekolah, tapi semata-mata untuk bapaknya. Sudah berhari-hari bapaknya tidak menarik becak, terbaring lemah karena penyakit asma yang hinggap di tubuhnya. Kata dokter puskesmas harus segara dilakukan operasi kecil agar tidak bertambah parah dan merambat ke paru-paru. Bima tak bisa tinggal diam melihat bapaknya seperti itu. Maka diputuskannya untuk mengamen, meraup rupiah demi rupiah untuk kesembuhan bapak. Sejak kecil Bima hidup berdua dengan bapaknya. Bapaknya adalah semangatnya. Ibunya meninggal saat ia masih belia karena tumor yang menggerogoti rahimnya. Bima tak mau kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya. Selama ini biaya hidup keluarganya bergantung pada uang pensiunan dan ongkos menarik becak bapaknya. Hanya cukup untuk keperluaan sehari-hari. Untuk urusan sekolah ada sedikit kelegaan. Dari kelas 1 hingga kelas 5 sekarang ini nilai Bima selalu stabil bahkan naik disetiap tahunnya. Melihat prestasi dan latar belakang Bima, pihak sekolah memberikan beasiswa hingga Ia lulus SD. Walaupun hidup di Jakarta serba susah, Bima selalu mensyukuri hidupnya. Seperti yang nasehat bapaknya “Nak, hidup ini cuma sekali. Kalo diisi dengan mengeluh, mengeluh dan mengeluh kapan kita bisa melihat indahnya hidup? Bersyukurlah selagi kita mampu”. Singkat, dan selalu menjadi pijakan Bima untuk terus berjuang di Jakarta.
“Bim, sudah mau maghrib. kita pulang duluan yaa….” Pamit salah satu temannya.
“Iya Yu, hati-hati yaaa….”. Sahut Bima bersahabat.
Ia kembali menghitung recehan yang didapat hari ini. “Alhamdulillah, semoga besok bisa lebih”. Ucap Bima dalam hati.
“Gimana Bim, dapet banyak hari ini?” Tanya Asep teman sekampungnya yang berprofesi sama.
“Yaa alhamdullilah Sep, kamu sendiri gimana?” Timpal Bima.
“Gak seberapa Bim, hari ini orang-orang pada gak bersahabat jadi dapetnya dikit”. Keluh Asep.
“Sedikit banyak mesti disyukuri Sep, Rejeki udah ada yang ngatur, Percaya itu”. Kata Bima mengingatkan.
“Aku tau Bim, tapi kapan yaa kita hidup enak? Kapan yaa kita didengar? Mungkin nanti kali ya kalo semua koruptor pada lari ke luar negeri baru kita di dengar. Hahaaha.” Gerutu Asep diselingi canda.
"hahaha. Jangan ngeluh ah. Kalo orang-orang kecil seperti kita mengeluh semua, bagaimana jadinya Jakarta? Kasian kan kalo Indonesia dicap negera dengan penduduk yang hobi mengeluh nomer wahid. Cukup mereka saja yang mengeluh. Kita jangan. Kasian kan pak presidennya kalo kita ikut ngeluh bebannya nambah lagi". Ujar Bima seperti orang dewasa.
“Iya Bim kamu bener. Eh ngomong-ngomong gimana kabar bapakmu?” Tanya Asep.
“Nggak ada tanda tanda membaik Sep. Obat dari puskesmas juga mulai habis. Aku harus lebih keras sekarang. Demi kesembuhan bapak”. Ucap Bima memelas.
“Kamu yang sabar yaaaa Bim, tetep berdoa. Kamu boleh kok pinjem uangku kalo kamu bener-bener butuh”. Kata Asep menenangkan Bima.
“Iya Sep. Makasih. Aku minta doanya yaaa, doakan biar bapakku cepet sembuh, biar bisa narik becak lagi”. Ujar Bima penuh harap.
“Pasti itu Bim. Yuk sekarang kita pulang kasihan bapak kamu sendiri di rumah”. Ujar Asep lagi.
Bima membalasnya dengan anggukan kepala. Mereka berjalan melewati ribuan mobil yang hilir mudik di sekitar Menteng. Memasuki gang-gang kecil. Menyusuri jalanan kampung yang mulai gelap. Hingga dipertigaan jalan kampung mereka berpisah.
     Bima berjalan sendirian,ia teringat bapaknya. Teringat penyakit asma yang diderita bapaknya. Bima ingin segera membawa bapaknya ke rumah sakit, namun biaya belum mendukung. Dalam keadaan kalut seperti itu, banyak sekali ide-ide konyol yang terlintas di benak Bima untuk mendapat uang banyak. Salah satunya yaitu menjual ginjal. Ia pernah membaca di koran ada anak yang menjual ginjalnya untuk menaik hajikan emaknya, dan itu berhasil. Bentuk baktinya kepada orang tua. Bima ingin meniru hal serupa. Menjual salah satu ginjalnya untuk biaya berobat bapaknya dan bapaknya akan sembuh. Misi baru. Semagat Bima semakin berkobar. Kesempatan bapaknya untuk sembuh semakin besar “Semoga misi ini berhasil”. Harap Bima dalam hati. Bima tak pernah tau apa resikonya. Ia hanya tau bahwa setiap orang punya ginjal dan jika dijual harganya mahal. Bima mempercepat langkahnya agar cepat sampai dirumah, dan merawat bapaknya lagi.

***

    Hari ini hari ketiga aku di Jakarta. Setelah melihat monas dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Jakarta, hari ini aku ingin berkunjung ke Menteng. Tempat yang disebut-sebut pernah disinggahi Presiden USA. Barack Obama. Sebagai seorang yang hobi traveling sepertiku selalu tertantang untuk berkunjung ke tempat-tempat seperti itu. Tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan orang-orang terdahulu.
    Kata pakde Jarwo dari kampung rambutan ke Menteng bisa ditempuh dengan menggunakan angkot atau bus. Aku memilih naik angkot saja, kerena dari kemarin aku selalu naik bus kota atau trans Jakarta. Ingin ganti suasana. Aku diantar pakde Jarwo ke pangkalan angkot karena letaknya searah dengan tempat kerja pakde. Lumayanlah, batinku.
     Di pangkalan angkot, aku mencari angkot M56. Aku mondar mandir  dan akhirnya ketemu. Sebelum masuk, aku memastikan lagi kepada pak sopir. “menteng pak?” tanyaku. “Iya mas” jawabnya. Di dalam angkot sudah ada 8 penumpang. Aku duduk di pojok. Sambil menunggu angkot penuh aku melihat sekelilingku. Aku melihat pak sopir yang sedang menghisap rokok ktretek tang tinggal separuh. Lalu sang kernet yang berteriak “Menteng Menteng”. Dan segala rupa dan tingkah laku penumpang. Semua sibuk dengan aktivitasnya. Tak ada percakapan di dalam angkot ini. Tak ada pula senyum sapaan. Seperti mimbisu. “Jakarta, pelan tapi pasti mengubah pribadi seseorang menjadi sangat individualis”. Pikiran negatifku tentang Jakarta muncul. Namun cepat cepat ku tepis. Sepuluh menit berlalu, angkot mulai penuh. “Ayo bang, berangkat sudah penuh”. Kata kernet mengingatkan. Tanpa menunggu lagi, angkot berangkat. Berjalan meninggalkan pangkalan. Menerobos kemacetan.
      Jam tanganku menunjukkan pukul 11 siang, dan angkot berhenti. Beberapa penumpang turun. Namun aku masih diam hingga pak sopir memberitahu bahwa ini sudah tiba di menteng. Aku kemudian beranjak turun dan tak lupa membayar.
      Aku berjalan tanpa arah, tapi bertujuan. Mengenal kampung kecil Obama.Ya. itu tujuanku. Setiap jalan yang kulalui selalu kuamati. Aku bertanya dari rumah A ke rumah B untuk mencari tahu dimana tepatnya presiden kulit hitam itu tinggal. Setelah lama mencari akhirnya ketemu. Jalan Haji Ramli No 16 RT11/15, Menteng Dalam. “Obama pernah tinggal disin dulu”. Celutuk seorang warga yang menjadi tour guideku mencari rumah obama. Setelah berbincang-bincang cukup lama aku pamit undur diri. Langit sore mulai menampakkan diri, ku lanjutkan lagi perjalananku. “Menteng, Jakarta, tak kusangka presiden dari negeri super power itu pernah tinggal disini di menteng dalam yang sempit.”  Gumamku dalam hati.
     Lelah mulai menghampiri. Aku ingin merebah lelah sebentar di taman menteng. Jaraknya cukup lumayan dari menteng dalam. Tak sampai satu jam aku telah tiba di taman menteng. Aku mencari posisi yang nyaman untuk aku duduki. Ketemu. Aku duduk di dekat perempatan di bawah pepohonan yang rimbun. Dari sini aku dapat melihat aktivitas di perempatan menteng. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan seorang anak kecil yang berdiri diatas trotoar sambil mengalungkan sebuah tulisan “Butuh uang cepat, Bapak saya sakit. Ginjal saya jual”. Aku mengamatinya lama.  Rasa penasaranku tak tertahan lagi. Aku bergegas menuju trotoar tempat anak kecil itu berdiri. Ketika aku mendekat, anak itu menatapku lama. Dan ia menawariku ginjalnya.
“Butuh ginjal bang? Ini saya jual. Lagi butuh duit cepet nih”. Kata anak kecil itu lantang.
Aku tidak langsung menjawab. Lalu aku tersenyum ramah.
“Namanya siapa dek?” tanyaku.
“Bima bang.” Jawabnya singkat.
Aku menjulurkan tanganku dan menyebut namaku “Doni”.
“Boleh abang bicara sama kamu, jangan takut abang gak jahat kok” Rayuku.
Bima menganguk. Lalu aku mengajaknya duduk ditempatku tadi. Disana aku meminta Bima bercerita apa yang sedang terjadi hingga dia melakukan hal konyol ini. Dia bercerita panjang lebar tentang sakit yang di derita bapaknya. Tentang kehidupannya. Tentang sekolahnya. Segalanya ia ceritakan kepadaku. Seolah-olah aku ini kakaknya.
“Dari kecil aku tinggal sama bapak bang, Ibuk sudah lama pergi”. Bima mulai bercerita.
“Bapak saya pensiunan PNS . sekarang cuma narik becak. Hidup kami tergantung pada uang pensiunan yang nggak seberapa dan ongkos menarik becak. Cukup untuk biaya sehari-hari. Sekarang bapak sakit. Butuh uang Makanya saya ngamen bang”. Lanjutnya.
“Sudah lama ngamen?’ tanyaku.
“Baru dua minggu bang, sebelum bapak kena asma saya yaa nggak ngamen. Saya ngamen untuk biaya operasi kecil bapak. Dan ini (sambil melihat tulisan yang ia gantung dilehernya) misi baru saya bang. Saya pengen cepet-cepet bawa bapak berobat. Uang mengamen nggak cukup bang.” Jawabnya.
“Kenapa harus ginjal?’ tanyaku lagi.
“Dua hari lalu saya baca koran bang, disitu ada berita yang isinya ada seorang anak yang menjual satu ginjalnya untuk menaikkan haji emaknya. Tanpa waktu yang lama. Emaknya bisa berangkat haji. Saya meniru itu bang. Siapa tahu bernasip baik” Jelas Bima.
“Memang, sudah menjadi kodratnya, harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di Jakarta”. Timpalku.
"Hidup di Jakarta memang keras bang, tapi saya tak pernah membenci Jakarta. Karena saya lahir di Jakarta bang, tanah yang saya injak pertama kali yaaa tanah Jakarta ini, orang boleh bilang apa saja tentang jakarta tapi saya selalu bangga dengan Jakarta" Jelas Bima dengan lantangnya.
Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Bima. “Anak ini, masih SD tapi perjuangannya, semangatnya, caranya hidup menghadapi keganasan Jakarta membuat ia lebih dewasa dari anak seusianya. Hebat !! ”. Pikirku dalam hati.
“Bang kok bengong?” Suara Bima membangunkan lamunanku.
“Eh iya. Hahaha. Oyaaa tentang sekolah kamu gimana?. Tanyaku.
Bima diam sejenak tak langsung menjawab. Ia menatapku lama lalu tersenyum. “Untuk urusan sekolah bisa dibilang lumayan bang, karena prestasi dan keadaan ekonomiku pihak sekolah memberiku beasiswa hingga aku lulus SD nanti. Walaupun saya ngamen. Sekolah tetep jadi yang utama bang. Saya pengen sekolah tinggi tapi gak mau keluar negeri.” Ujarnya.
Alisku mengerut mendengar ungkapan Bima. “Loh kok aneh? Kebanyakan anak sekarang kan pengen keluar negeri? Jangan bilang karena ekonomi keluarga susah jadi takut ke luar negeri”. Cetusku.
“hahaha. Ya enggaklah bang. Kata bapak ketika kita punya mimpi, jangan sesekali melihat siapa kita sekarang, bagaimana keadaan kita sekarang tapi lihat apa yang kita perbuat sekarang. Itu yang menentukan. Jadi walaupun sekarang saya susah saya gak takut bermimpi. Saya gak mau keluar negeri bang, disini aja cukup. Sayang kalo ninggalin Jakarta, ninggalin Indonesia. Banyak alasan untuk tetap disini. Pendidikan di Indonesia memang kurang bagus, tapi itu kembali ke diri kita sendiri, bagaimana mensiasatinya begitulah kata guru saya bang. Ungkap Bima
“hhhmm emang Bima pengen jadi apa?” Lagi- lagi aku bertanya.
Tanpa berpikir lagi, Bima menjawab. “Saya pengen jadi presiden kayak   Pak SBY bang. Pengen nerusin perjuangan Pak SBY menata Indonesia.  Heheheee”.  Aku tersenyum dan tak bertanya lagi.
Di taman menteng ini, di bawah pohon nan rimbun ini Bima bercerita kisah dam mimpinya kesana-kemari. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya. Tak tererasa matahari mulai pergi. Siang yang terik akan menjadi gelap kerena malam.
“Sudah mau maghrib bang, Saya harus pulang ngerawat bapak lagi.” Pamit Bima penuh makna.
“Iya nih, mulai gelap. Salam yaa buat bapak kamu”. Balasku singkat,
“Oke baaaang. Makasih ya bang mau ndengerin ceitaku. Padahal kita baru kenal. Besok abang mau nggak main kesini lagi?”. Ucap Bima penuh harap.
“Boleh tapi semua inigak gratis looo, ada syaratnya.” Candaku.
“Apa syaratnya bang?” Tanya Bima keheranan.
“Besok kalo kesini lagi jangan bawa tulisan yang kamu kalungin itu yaaaaa”. Kataku tegas.
“Kenapa bang? Nanti saya dapet uang darimana?” tanyanya lagi.
“Besok abang kasih tau caranya. Sekarang Bima pulang dulu”. Bujukkku padanya.
Terlihat jelas di raut mukanya kalau ia bingung. Tersirat bahwa Bima ingin memperpanjang percakapannya denganku. Namun disisi lain ia tak bisa lama-lama lagi, bapaknya pasti menantinya di rumah. Maka ia beranjak pulang. Akupun demikian.

***

     Aku duduk di taman belakang rumah Pakde Jarwo, menikmati sinar rembulan yang mematung diangkasa. Ditemani secangkir tehbuatanku sendiri. Aku melamun, pikiranku kembali pada kejadian di Taman Menteng siang tadi. Sosok anak laki-laki dengan dandanan kumal dan senyum yang selalu merekah di wajahnya memenuhi otakku. Sosok Bima.. Dari tadi aku memutar otak. Mencari titik terang untuk membantu Bima. Namun suram, aku kehabisan akal.  
“Ngelamun apa kamu Don?” suara pakde Jarwo yang telah duduk di sampingku.
“eh Pakde. Aku mikirin kejadian tadi siang di Taman Menteng”. Jawabku.
“Taman Menteng? ada kejadian apa?” Tanya pakde penasaran.
Aku menceritakan semuanya tentang Bima, Tak kurang dan tak lebih. Aku bercerita apa adanya. Pakde sangat antusias mendengar ceritaku. Aku juga bercerita bahwa aku telah berjanji pada Bima memberithunya cara cepat mendapat uang selain misi konyolnya itu.
“Pakde punya usul  Don, kamu adain aja pertunjukkan jalanan. Kamu kan jago dance. Ajak Bima dan temen-temennya. Pasti akan menarik perhatian, banyak yang datang dan banyak juga yang nyemplungin recehan. Tapi gak cukup sehari, paling nggak lima hari bisa ngumpul banyak. Kamu juga kan disini masih lama” Jelas pakde panjang lebar.
Aku tak menjawab hanya tersenyum, memangut-mangut tanda setuju. Ide pakde Jarwo ini membuatku lega. “ Akhirnya, Semoga berhasil”. Harapku dalam hati.

***

     Esok harinya aku menepati janjiku. Aku datang lagi ke Taman Menteng. Aku duduk ditempat yang sama, menunggu Bima. Lima menit Sepuluh menit tak kelihatan batang hidungnya. Baru setengah jam kemudian Ia datang. Dan sesuai permintaanku, Bima tak lagi mengalungkan misi konyolnya. Tanpa basa basi aku langsung menceritakan pada Bima sebuah misi baru yang lebih masuk akal tentunya. Senyuman bangga tampak diwajah Bima ketika mendengar aku berdalih Mungkin baginya aku seperti pak SBY sedang berpidato. Pada hari itu juga aku dan Bima menyusun strategi agar misi kita berjalan baik. Ya, misi kita. Aku dan anak Jakarta ini.
“oyaaa bang, kenapa Bima gak boleh jual ginjal. Kan ada dua ginjal?” Tanya Bima tiba-tiba.
Aku tak langsung menjawab aku memikirkan kata yang tepat.
“Perlu Bima tau yaaaa, semua yang dalam diriki kita itu sangat berharga. Termasuk ginjal. Karena sangat beharganya jadi sayang kalo cuma ditukar dengan lembaran rupiah. Jadi jangan lagi-lagi punya ide buat jual ginjal”. Kataku bersahabat.
Bima membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman khasnya. Strategi telah disusun, sekarang waktunya mengomtimalkan tenaga. Karena besok adalah hari yang istimewa.

***

     Pukul 3 sore. Taman Menteng masih sama seperti hari-hari kemarin. Ramai. Hari ini Taman menteng akan menjadi saksi bisu pengaplikasian misiku pertama kali. Aku telah siap dengan segala peralatanku. Di ujung taman aku melihat Bima dan teman-teman berbondong-bondong menuju ke arahku. Mereka seperti pasukan Diponegoro yang siap berperang. Sebelum memulai, kami berdoa dulu agar semuanya lancar.  Doa selesai. Dan mulai beraksi. Musik diputar dari tape recorder yang aku pinjam dari pakde Jarwo, tak lupa speakernya. Aku menjadi patokan, Bima dan teman-temanya menirukan gerakkanku. Cukup energic dan kompak. Tak sampai satu jam orang-orang telah mengerubungi kami. Seperti kerumunan semut. Dan mereka mulai melempar recehan mereka ke kotak yang bertuliskan “untuk bapak” yang telah kami siapkan sebelumnya. Satu jam telah berlalu, kotak yang kosong telah penuh koin dan kertas yang berlebel rupiah. Sesuai perjanjian, setiap kali tampil, kami membagi hasil. Bima mendapat 50% dan 50%nya lagi untuk teman-teman Bima. Sengaja dibagi seperti itu, karena memang tujuannya untuk mermbantu Bima Dan aku menolak ketika aku disuruh ambil bagian juga, menurutku mereka yang  lebih butuh, apalagi si Bima. Hari pertama diluar dugaanku dan aku sangat bersyukur.Setalah pembagian  hasil, temen-teman Bima pamit pulang. Tinggal aku dan Bima.
“Nggak nyangka bang, baru sehari udah dapet segini.” Kata Bima membuka pembicaraan
“Iya Bim.” Jawabku singkat.
“Semoga besok juga yaa bang.” Ucap Bima lagi. Aku mengamini dalam hati. Bima cukup puas dengan hari ini.

***

     Tak terasa hari ini hari terakhir menjalankan misi. Sesuai jadwal, hari ini kami unjuk diri di sekitaran Monas. Semuanya lancar dan penampilan kami membanggakan. Kami kembali ke Menteng. Sebelum pulang, aku dan Bima menyempatkan diri mengobrol di  Taman Menteng.
“Utangku lunas yaaa Bim”. Kataku membuka pembicaraan.
“hahaha makasih yaaa bang, semua ini berarti banget buat Bima. Hasil uang ngamen dan ongkos joget-joget ini sudah cukup.  Rencananya besok Bima langsung bawa bapak ke rumah sakit. Dan segera di operasi. Semoga belum terlambat” ujarnya.
“Yaaa semoga. Berdoa saja. Allah akan memberikan yang terbaik”. Kataku mengakhiri.
Semenjak ketemu Bima aku belum sekalipun bersambang ke rumahnya. Tak pernah berjumpa dengan Bapaknya.  Tapi hari ini juga aku akan mengantar Bima pulang dan melihat keadaa Bapaknya. Sebelum besok aku pulang. Meninggalkan Jakarta.

***

     Pagi ini cukup cerah. Sinar matahari masih lembut memancarkan kehangatan. Namun ada perasaan sedih dalam diriku,  aku tidak menemani Bima mengantarkan Bapaknya. Hari ini aku bertolak meninggalkan Jakarta. Semalam aku telah berpamitan pada Bima dan meminta maaf tak bisa menemani. Bima kecewa, tapi Ia mau mengerti. Aku sudah bersiap. Pakde Jarwo mengantarku ke stasiun Pasarsenen. Aku masuk kedalam gerbong, berjalan mencari tempat duduk sesuai dengan tiket. Aku duduk. Kereta mulai bergerak meninggalkan pasarsenen. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada telepon masuk, tapi aku tak mengenali nomernya.
“Halo bang, ini Bima. Operasinya lancar Bang. Asma yang hinggap di Tubuh bapak sudah lenyap. Bapak sembuh bang. Bisa narik becak lagi. Semua berkat abang.”. Suara Bima dari ujung telephone seperti pembalap.
“Alhamdulillah abang ikut seneng. Bukan berkat abang. Tapi berkat Allah swt. Abang cuma perantara saja. Sudah ditakdirkan seperti ini.” Jelasku seakan menggurui. Dalam hatiku aku sangat senang. Tak sia-sia, usahaku bermanfaat untuk orang lain.
“Iya bang tak luput dari ridho Allah Swt. Kapan-kapan main ke Menteng lagi  yaaa, jangan kapok ke Jakarta”. Ujar Bima dengan gurau.
“Iyaaaa pas…” Tuuut….tuuuut…. belum selesai aku bicara sudah terputus. Mungkin Bima telpon dari wartel dan jaringannya terganggu. Pikirku.
     Aku kembali menikmati perjalananku. Gedung – gedung tinggi mulai tak terlihat. Bersama hembusan angin dari jendela kereta aku mengenang kembali pengembaraanku selama di Jakarta. Sosok Bima yang mendominasi ingatanku. "aaaah Bima, Anak sekecil itu mengajariku banyak tentang hiruk pikuknya kehidupan. lewat kisahnya aku tau bahwa hidup itu tak bisa dilihat dari satu sisi. Dan Bima, walaupun hidupnya disini jauh dari kata sejahtera, Ia selalu bangga dengan Negeri sendiri, apalagi Jakarta tanah kelahirannya. Tak cukup Obama, Menteng punya cerita baru". Kataku dalam hati sambil tersenyum.
     Keretaku mulai memasuki Jawa Barat. Gedung pencakar langit tak terlihat lagi. Kali ini aku disuguhi hamparan sawah yang luas. Hijau yang menenangkan. Sesekali kulihat petani yamg melambai kearah kereta. Anak-anak kecil menggiring kambing.  Aku tak mampu berkata lagi. Selama aku berkelana ke banyak kota, baru ini yang paling bermakna. Jakarta.


***


Sabtu, 02 Juli 2016

Siklus Yang Sama

Dulu pernah seperti ini,
Harusnya ini tak terulang

Bukan salah dia
Memang kamu begitu adanya

Dulu pernah seperti ini,
Harusnya ini tak terulang

Bukan salah siapa-siapa
Memang aku yang keras kepala

Mungkin sekarang dunia seakan tertawa
Atas keangkuhanku mendamba

Entah

Andai aku bisa,
Ingin kuhentikan segala rasa,

Aku lelah menerka,
Meraba setiap gerak dan kata yang tergambar darinya





 Ajari aku ikhlas, jika segala kemungkinan di kepala benar adanya :)

Surabaya, 2 Juli 2016
Kegaulaun entah yang keberapa.....


Rabu, 08 Juni 2016

Tertahan

Ya, sesuai judulnya tertahan.
Apalagi kalau bukan air mata.

Kompleks.
Rumit.
Kecewa.
dan ketakutan.

Entah diksi seperti apalagi yang mampu mendefinisikan.

Aku menulis, melegakan perasaan.
Bukan menggumbar keluhan.

Aku ingin berteman dengan kesabaran, berdamai dengan keadaan.

Setan berbisik, mana mungkin.

Saat ini aku hanya ingin menangis, menangis sejadi-jadinya.

Membiarkan air mata berbicara, tentang dosa hari-hari lalu, dan hari.

Tentang kita, mungkin [?]

Setelah ini, kulepas, tak kan kutahan.

Aku lelah.
Tapi belum juga menyerah



Minggu, 08 Mei 2016

Tamu Yang Sopan dan Bijaksana


Selamat malam, langit tak berbintang, awan mendung, dan lagu sahdu.
Aku rindu kehangatan malam kita seperti ini,
Tak ada tulisan tentang kita sejak beberapa waktu lalu,
Aku rindu pada malam-malam sendu-ku.

Kali ini aku datang lagi, aku ingin bercerita,
Ku rasa kau sudah bisa menebaknya,
Apalagi kalo bukan tentang rasa dan segala rintihan tangisnya.

Kemarin, aku kedatangan tamu.
Sebelumnya, aku tak punya firasat akan kedatangan tamu,
Semesta juga tak menujukkan tanda-tanda akan ada tamu,
Tak ada kupu-kupu yang hinggap di jendala kamar,
Langit-langit di kamarku pun juga sama, hanya terhias lampu,

Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu,
Aku mengernyitkan dahi, memutar otak,
mengingat apa aku punya janji, atau
mungkin ada hutang yang belum aku lunasi
jadi ada tamu yang mencariku...
Ah, terlalu lama aku menerka,

Membiarkan seorang menunggu tidak ada dalam adab menerima tamu,
Itu ajaran guru ngajiku dulu,
Lantas, aku lekas buka-kan dia pintu,

Aku tak mengenal siapa tamu-ku ini,
Sekejap kemudian aku dirubung tanda tanya,

Sebelumnya ku persilahkan dia duduk,
Dia tersenyum, manis, bak martabak coklat.
Atas nama kesopanan, aku membalas senyumannya.
Lalu dia memperkenal diri,
Dan aku masih sama, atas nama kesopanan,
Aku sambut baik kehadirannya.

Keesokan harinya dia datang lagi,
Dia membawa begitu banyak tawa,
Aku terheran, dia tak butuh waktu lama,
Untuk membuatku tertawa,

Keesoknya lagi, dia datang lagi,
Karena ku rasa dia baik,
Kusaijakn hidangan yang ada.
Ku-suguhkan dengan cara yang aku punya.

Waktu enggan berjalan lagi,
Ia lebih suka berlari,
hari-hari lebih cepat berganti,
Dia masih saja sama,
Datang bertamu, membawakan segenggam cerita,
Dengan ribuan tawa di dalamnya,
Aku bahagia, bahkan lebih bahagia dari hari sebelumya.

Hingga dalam sebuah malam,
Dia berbicara tentang sebuah kisah tanpa cerita,
Aku kaget, bingung, sedih, seneng, dan entahlah...
Saat itu, aku hanya bisa menutup hidung,
Itulah caraku untuk menahan air mata.
Sebab yang iya ceritakan itu begitu rumit, tak seperti biasa.

Mendengar ceritanya,
Aku diam saja, aku takut pada ketakutanku sendiri.
Melihat sikapku, dia seolah kecewa,
Aku bukan pendengar yang baik lagi,
Mungkin begitu baginya,
Tak banyak yang bisa diharapkan,

Sejak malam itu, 
Dia tak pernah bertamu lagi

Sejak malam itu,
Aku tak pernah mendengar suara dan tawa renyahnya,
Aku tak pernah mendengar cerita, dan petuah manisnya,

Sejak malam itu,
Aku malu pada diriku,
Aku tak tau adab menerima tamu,

Sejak malam itu,
Aku kehilangan tamu yang sopan dan bijaksana,

Dan sejak malam itu,
Aku tak pernah berhenti berdoa untuk kebaikannya,

"Seandainya aku dan segala ke-aku-an-ku meredup, aku yakin tak akan ada yang sesedih ini."



Dari Aku,
Tuan Rumah Yang Senang Kau Kunjungi 



Jumat, 01 April 2016

Selisih Seminggu

2 April 2016

Entah sudah berapa banyak kebetulan diantara kita
Mungkin kau tak banyak memikirkan tentang itu
Karena sejatinya aku lah yang selalu berlebihan menyikapi kebetulan diantara kita berdua

Semesta itu baik, menghadiahkan banyak kebetulan untuk kita
Rumah kita bersebelahan, dari kecil kita main bareng, pake kaos teletabies yang sama, sama-sama suka ngambek kalo kalah main petak umpet, foto dengan pose sama pegang topi, sekolah di tempat yang sama dari tingkat TK sampe SMK, kadang aku mikir ini sinetron bukan sih? Ah tapi sinetron terlalu banyak drama, sedang kisah kita nyata apa adanya 😃

Hingga pada sebuah putaran waktu, kita dipisahkan dalam sebuah kesempatan yang sama. Nyesek tapi bangga, gimana tuh? Saat itu yang ada hanya doa untuk kebaikanmu, dan air mata untuk melegakan perasaanku sendiri.

Kebetulan terbesar yang tak pernah aku lupa, bahwa kita ini seorang pemimpi. Mimpi-mimpi kita tinggi, salah satu mimpi kita bersama adalah kembali pulang membawa kebanggan apa yang telah kita berdua raih di tanah rantau  lalu orang tua kita tersenyum seolah usaha mereka tak sia-sia, seolah keringat mereka menguap menjadi rintik hujan yang meneduhkan.

Atas nama mimpi, kamu dengan rutinitasku, aku dengan aktivitasku. Kita sama-sama berkejar dengan waktu hingga komunikasi diantara kita tak sebanyak dulu. Aku memaklumi, kamu melumprahi. Kita dewas dengan cara kita masing-masing.

Selamat Ulang Tahun, usia belasan sudah mulai kau tinggalkan. Tetap menjadi sosok yang aku kenali, yang aku kagumi, yang selalu aku rindu untuk ku jumpai.

Jangan karena kita sibuk membahagiakan orang lain, kita lupa membahagiakan diri sendiri. Berbahagialah, karena kau pantas untuk bahagia 😊

Doaku tak pernah berhenti disini, sama seperti yang kau ucap seminggu lalu saat aku berjumpa dengan tanggal kelahiranku. Pesan singkatmu begitu sederhana, namun mampu membuatku menitikan air mata, sebab perjumpaan kita sebatas kata.

Selamat ulang tahun, Din! Selesaikan dan mari kita pulang mengukir senyum bapak-ibuk yang selalu mencemaskan kita di perantauan.

Ditulis dengan penuh rindu, 2 April 2016
Aku, sepupu, tetangga, teman main, kakak kelas, sekaligus musuh bebuyutanmu

Minggu, 27 Maret 2016

Syukur Saja Tak Cukup

Selamat malam, semesta 27 Maret 2016 :)
Alhamdulillah Allah, Tuhan semesta alam senantiasa baik, perjumpaan kita kesekian kalinya, dan aku selalu berdoa akan ada perjumpaan kita yang lebih lama lagi. Amin

Hari kelahiran atau hari ulang tahun adalah hari yang istimewa untuk mereka yang mempercayai itu, terlebih aku sendiri. Ulang tahun bagiku sekarang, bukan tentang mengharap kado melimpah yang selalu penasaran apa isi didalam kotak berpita yang berlapis kertas warna-warni, bukan tentang siapa yang akan ku beri potongan kue pertama. Bukan pula tentang sebuah penantian siapa yang mengucap pertama dan siapa yang tidak mengucap.

Aku memaknai hari kelahiran sebagai hari hujan-hujan. Ya, Hujan Doa. Aku dapati istilah Hujan Doa dari penulis favoritku, Mbak Rahne Putri yang tulisanya selalu menginspirasiku. Memang benar, sepanjang hari penuh saat penanggalan hari lahirku tiba, aku dihujani doa dari segala sudut bumi, harapan dan perkataan baik bagai rintik gerimis yang kian lama tak berjeda. Mengharukan. Lantas, siapa yang tak suka berulang tahun?

"Aku suka saat penanggalan kelahirnanku tiba, aku suka berhujan-hujan dengan doa, aku suka dihantam kata-kata baik sepanjang hari, sebab kapan lagi ada doa, harapan, dan ucapan baik mengalir menjadi satu hanya untuk kita yang berulang tahun"

Setiap ucapan dan doa dari kalian, aku baca kata demi kata, mata-telinga aku buka lebar-lebar, seutas senyum ku biarkan mengembang, lalu ku pejamkan mata, tak pernah lupauntuk ku amini, dan mengiba pada semesta agar turut pula mengamini. 

21 tahun, aku tumbuh. Angka bukan ukuran dewasa. Aku masih pada kekurangan yang sama, dan masih pula menggali potensi yang ada agar lebih berguna sebagai seorang hamba dan seorang manusia.

Semoga, aku lebih bisa taat beribadah, aku bisa memaknai hidup, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tidak lagi menunda waktu atau meremehkan sesuatu, tidak lagi bertinggi hati terhadap apa yang telah dicapai padahal itu belum ternilai.

YaAllah, lindungi aku dalam segala usiaku, tuntun aku dalam kebaikan, bekali aku dengan kesehatan agar aku bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang yang aku sayang dengan hal-hal bermanfaat penuh cinta. Syukur Alhamdulillah, atas segala kontrak 21 tahun-Mu yang begitu luar biasa, semoga masih bisa diperpanjang. Amin ya Robbalalamin :)

Dan terima kasih untuk keluarga bapak-ibuk, temen-temen semua temen sd smp sma yang di Surabaya yang tau aku banget dari dalu, temen-temen di perantauan yang kayak saudara sendiri, temen kos, temen kuliah, temen nge-event, yang semua itu nggak bisa disebut namanya satu-satu. Terima kasih hari sudah mengingat, mengucapkan serta terlebih lagi mendoakan. Ku rapal doa kembali untuk kalian sebagai balasan. 


Semoga kepedulian, dan kebaikan kalian mendapat balasan kebahagian selarasa seperti yang kalian harapkan. Amin :)


photo : pinterest

Dari Aku,
yang sedang mengamini doa dan mensyukuri keberadaan kalian.

Kamis, 17 Maret 2016

Memaknai yang bermakna

Aku jatuh cinta pada caramu mencintainya - unknown

Entah aku pernah membaca kalimat itu dimana, tapi yang jelas kalimat itu seolah mengakar pada ingatanku.

Soal cinta aku tak berani banyak bicara. Kata Cinta terlalu tinggi untuk kucari tahu apa maknanya. Aku bukan seorang ahli filsafat yang pandai menafsir kata, bukan juga seorang punjangga yang lehai memainkan kata cinta di setiap bait larik-lariknya.

Aku hanyalah aku
Perempuan yang sedang menunggu
Menunggu kau memahamkan aku akan cinta
Menunggu kau menyederhanakan makna cinta
Menunggu kau membuktikan hakikat cinta yang sesungguhnya

Berapa banyak siang dan malam yang terlewat
Disini, aku menunggu
Aku setia menunggu
Untuk sebuah cinta
Cinta dari dirimu

Perpustakaan Cinta, 2016

Rabu, 03 Februari 2016

Lamunan Masa Kecil dan Penggerak Peradaban

Karena aku pelupa, 
Untuk itu aku menulis

Menulis adalah cara ku mengingat,
Sejak kupahami alur semesta

Bahwa,
Ingatan manusia akan berhenti di tangan sang pengesa
Tapi rangkaian kata, akan terus terbaca
Dan meninggalkan makna bagi pembacanya



Sedikit cerita ingin aku bagikan kepada kamu, kalian, dan kalian semua tentang jalan hidup yang aku pilih untuk menikmati masa muda. Seperti sebuah judul lagu ketjil bergerak, bahwa "Energi mudamu, Senjatamu !". Bagiku, tua itu pasti dan masa muda itu satu kali. Selagi muda, ayo turut ambil bagian, jangan hanya duduk diam berlipat tangan. Ini adalah tentang pengalamanku tergabung dalam volunteer 1000 guru. Pengalamanku aku kemas dalam sebuah tulisan blog. Dengan harapan, sedikit banyak kalian mampu menebar harapan dan kepedulian untuk lingkungan sekitar kalian sendiri, Langsung saja ya.

Secara garis besar 1000 guru adalah gerakan peduli pendidikan di daearah pelosok Indonesia. Awal aku tahu tentang 1000 guru adalah lewat twitter, dan TnT (Traveling n Teaching) pertama yang aku tahu adalah di daerah Sulawesi, tapi sayang saat itu belu bisa bergabung karena terkendala biaya. Aku tak berkecil hati, ternyata sekarang 1000 guru ada di setiap kota dan ada pengurus regionalnya, Alhamdulillah. Semenjak tahu ada regional Solo, aku tiap hari kepo kan bakal diadain TnT. *Sebelumnya juga tahu ada 1000 guru Surabaya TnT 7 tapi ternyata pendaftaran udah tutup. Harapannya ya pada TnT Solo.


Surabaya, 17 Januari 2016

Pendaftaran TnT perdana 1000 guru Solo di tutup hari ini tanggal 17 Januari 2016 pukul 12.00. Pendaftaran ditutup lebih cepat dari jadwal sebenernya (dari seminggu menjadi hanya dua hari), dikarena jumlah pendaftar melebihi kapasitas. H-2 jam dari penutupan aku baru mengisi aplikasi. Beruntungnya aku masih membaca pengumuman bahwa jadwal dimajukan. Aku mengisi form aplikasi apa adanya, jawaban sederhan tanpa aku buat-buat, dan selalu aku sertakan bismilah disetiap aku menekan tombol send dalam alur pendaftran online. Aku tak berharap banyak untuk diterima, mengingat aku daftar terlalu mepet dengan deadline, takut tidak terbaca pihak penyelenggara. Dan dalam benakku, jika nanti aku tak lolos masih ada TnT berikutnya. Aku mencoba dewasa, untuk tidak terlalu mengharap pada sesuatu, agar jika aku tidak mendapatkannya aku tidak kecewa terlalu dalam.

Surabaya, 18 Januari 2016

Pagi hari aku mendapat sebuah email, tertulis dari seribuguru.


"Alhamdulillah, amanah pertama di tahun 2016", gumamku dalam hati saat itu. Ternyata pihak penyelenggara melakukan proses seleksi dengan sangat baik dan cukup selektif. (Di instagram 1000 gugu Solo di post sekitar pukul 1 malam masih melakukan proses seleksi, kalian keren!). Selanjutnya, yang ada di pikiranku adalah meminta ijin Bapak-Ibuk. Loh kok baru ijin? Dari dulu kalo aku ikut acara selalu daftar dulu baru ijin, kenapa? karena biar diijinin, gak mungkin kan orang tua ngelarang kalo kita udah daftar dan yang daftar itu banyak. Tapi ternyata, yang satu ini agak alot, karena timingnya bersamaan dengan maraknya organisasi menyimpang. Ibuk juga sempet nanyain, kok bayar? tapi aku jelasin kalo itu buat donasi dan akomodasi selama kegiatan. Aku tahu kalo udah berbau duit agak berat, aku meminta ibuk untuk membayar separuhnya saja, separuhnya lagi uang sisa bidikmisiku bulan lalu.  Dengan beberapa argumen yang "agak ngeyel" dan sedikit koalisi, alhamdulillah ijin Bapak-Ibuk dalam genggaman. Hari berikutnya aku pergi ke bank untuk transfer sesuai yang di perintahkan.

Oh ya, aku lupa. Sebelum mendaftar aku tidak membaca poster secara detail, jadi setelah dinyatakan lolos seleksi, aku baru tahu kalo ternyata TnT perdananya tanggal 29-31 Januari 2016.  Galau mau lanjut atau enggak, soalnya masih dalam masa liburan di Surabaya, masih pingin lama di rumah, masih kurang puas ngerasain masakaan ibuk, masih kurang puas berantem sama mbak di rumah, dan bahkan belum ketemu temen-temen lain. Tapi bismillah hasrat turut ambil bagian dan mengabdi lebih kuat dari itu semua.

Surabaya, 28 Januari 2016

Berpamitan adalah hal sakral dalam hidupku. Aku memaknai berpamitan sebagai bentuk keikhlasan dan kepercayaan antara yang meninggalkan dan ditinggalkan. Dan sudah menjadi tradisi setiap kali ada sesi berpamitan, air mata tak pernah bisa ku halau untuk tidak turun. "Selamat tinggal, Surabaya. sampai jumpa pada kepulanganku berikutnya, kejutan apa lagi yang akan kau beri?", pikirku saat kereta yang aku tumpangi berlalu pergi. Memangkas waktu bersama keluarga dan orang yang kita sayang emang bukan hal mudah, tapi jika niatnya baik pasti kedepannya juga bakal baik. Aku percaya itu.



Solo, 29 Januari 2016

07.00

Jumat, akhirnya hari bersejarah itu datang juga. Sebelum keberangkatan, pagi harinya aku mondar mandir kesana kemari menyiapkan perlengkapan pribadi, kebetulan dalam pembagian tugas mengajar kelas 3 aku bertanggung jawab membuat co-Card dan materi peraga pengenalan buah-buah, tema kelas 3 sendiri yaitu Alam dan Pengukuran. Mendekati waktu keberangkatan aku dilanda perasaan cemas yang sangat tidak biasa, hingga jari tanganku bergetar dan susah dihentikan. Perasaan cemas itu muncul lantaran aku sama sekali tidak ada pengalaman dalam pendidikan, mengajar di depan kelas, sedangkan setelah kuamati lewat obrolan grup, rata-rata para volunteer yang lolos pernah mengukuti TnT 1000 guru atau mereka memilik basic dalam hal pendidikan. Jika mungkin ini terlihat berlebihan, silahkan tanya teman kos ku Winda, dia heran mendapati raut muka ku yang tegang setengah mati tidak seperti biasanya. Disaat-saat seperti itu selalu muncul ajakan setan untuk berhenti dan tidak melanjutkan lagi, tapi hati dan pikiranku masih bisa berpikir jernih, jika aku mundur, pengorbananku meninggalkan rumah dan memangkas waktu liburan itu sia-sia.

15.30

Meeting Point TnT 1000 guru Solo adalah pukul 16.00 WIB di Keraton Kasunanan Surakarta. Berangkat bermodal niat dan bismillah disaksikan oleh hujan yang sedikit meredam kecemasanku. Sesampainya di tempat pertemuan, aku berkenalan satu per satu, dalam perkenalan tersebut ku jumpai wajah-wajah yang benar-benar baru, tak pernah bertemu sebelumnya. Berbeda dengan volunteer Event Solo yang selalu bertemu dengan orang-orang sama.

17.00

Setelah semua tim dan Volunteer lengkap, kami berangkat. Disang (Red : truk TNI) adalah transportasi yang mengantarkan kami ke Desa Musuk, Kab. Boyolali, tujuan kami. Naik disang mengingatkan ku pada kegiatan pramuka bertahun-tahun silam, bersama orang-orang hebat yang saling menguatkan satu sama lain. Perjalan kami tempuh selama 2 jam lebih. Medan yang kami lalui tidak gampang tapi juga tidak sulit, jalannya hanya setapak, cukup menanjak, dan gelap. Perjalanan kita sempat terhenti karena terdapat gundukan pasir di pinggir jalan. Volunteer laki-laki dengan sigap turun untuk melihat kondisi jalan dan memastikan bisa maju atau tidak. "Yang dibelakang, pegangan ya" teriak pak Supir. Rasa kantuk seketika hilang dan berubah menjadi tegang. Alhamdulillah, disang kami berhasil melewati gundukan pasir. Tapi tak berselang lama, kami menjumpai ada mobil di depan kami, karena jalan hanya muat satu mobil, akhirnya sang pengendara mobil mengalah, ia berjalan mundur dan mempersilahkan kami jalan terlebih dahulu.

Medan yang kami lalu untuk menuju Desa Musuk, Boyolali.

Boyolali 20.00

Hawa dingin mulai menyelimuti. Sambutan masyarakat desa Musuk seolah menghangatkan suasana malam itu. Kami dari 1000 guru Solo telah disiapkan sebuah rumah yang jarang ditinggali tapi masih terawat sebagai sarana kami selama disini. Malam itu kami habiskan dengan pengenalan dengan Ketua RT dan Ketua Lurah. Ketua lurahnya disini muda banget dan orangnya lucu. Kata pak Lurah, sebagian besar mata pencaharian warga disini adalah petani dan berkebun mawar. Itu terlihat dari setiap halaman rumah warga selalu ada bunga mawar. Selanjutnya kami para volunteer di briefing tentang teknis mengajar besok, mulai dari ice breaking hingga pengenalan pohon impan.  Suasana malam menjadi lebih manis dari malam-malam sebelumnya.

Boyolali, 30 Januari 2016

05.00

Pagiku lebih dingin dari biasanya, aku bangun dan bergegas melaksanakan sholat subuh bersama teman-teman lainnya. Hari ini aku akan bertemu patriot-patriot hebat, aku siap mendengar mimpi-mimpi dan khayalan mereka. Sebelum berangkat menuju SD, kami berdoa dan di briefing, satu kalimat dari salah satu Tim yang aku ingat adalah "Anak-anak disini sangat mencintai sekolahnya, walaupun sekolah mereka apa adanya, mereka selalu datang pagi untuk menyapu sekolahnya tanpa ada yang menyuruh" - Mas Is. Mendengar perkataan itu, hatiku tersentuh. Rasanya sungguh tak sabar bertemu dengan mereka.

Perjalan kami menuju ke SDN 3 Kembangsari cukup mudah hanya berjalan ke atas sekitar 15 menit dari rumah singgah kami. Saat kami datang, semua murid keluar kelas dan menyaksikan kami satu per satu. Aku mengamati keadaan sekolah, dan ternyata memang ada beberapa kelas yang atapnya rusak terkena angin puting beliung, oleh sebab itu TnT kali ini bernama "Atap untuk Kami". Melihat keadaan sekolah dan senyuman adik-adik SDN 3 Kembangsari sangat bertolak belakang. Ribuan tanya di meyerang logika, bagaimana bisa mereka sebahagia ini dengan keaadan seperti yang aku lihat saat ini? Satu pelajaran pertama untuk diriku, bersyukur. Apapun yang kita punya saat ini itu yang harus kita syukuri.

Sebagai permulaan, seluruh tim dan volunteer mengajak adik-adik semua Ice Breaking, agar mereka tidak kaget dengan kehadiran kita. Melihat tawa lepas mereka sama halnya mendapati embun di pagi hari, menyejukkan. Antusias adik-adik dan para Volunteer 1000 guru begitu luar biasa.

Selanjutnya, kami volunteer mulai mengajar di kelas masing-masing. Aku kebagian mengajar kelas 3 bersama kak Hesti (Mahasiswa FKG), Kak Rahmat (Aktivis dan traveller), Kak Alif (Mahasiswa Fisika), dan kak Viska (Guru SMP). Sebelum kami berlima masuk, adik-adik sudah di depan pintu, menerka siapa yang akan mengajari mereka, aku geli melihat tingkah mereka, mengingatkan pada masa kecilku dulu. hehehe. Saat kami memasuki kelas mereka langsung duduk di kursi masing-masing tanpa kami komando. Kami mulai perkenalan, mereka mulai bercerita tentang apa kegemaran mereka dan cita-cita mereka. Kelas tiga dengan 12 murid, memiliki cita-cita yang kompak, sebagian polisi, sebagian tentara, dan tiga siswa putri memlih menjadi guru semua. Dalam hati ku aminkan semua apa yang menjadi keinginan mereka, semoga semesta turut mengaminkannya.

Proses belajar yang kami terapkan yaitu fun learning, semua berbentuk permainan, dan ada reward bagi meraka yang berani unjuk gigi. Aku turut menyumbangkan komik karya ku sendiri sebagai rewardnya. Rasanya sangat membahagiakan, jika karya kita bermanfaat untuk orang lain dan dapat menghibur mereka. Dipenghujung proses belajar, ada sesi penempelan pohon impian. Pohon impian adalah saksi bahwa mimpi itu milik siapa saja, dan biarkan ia tumbuh seriring berjalannya waktu. Daun yang berguguran, nantinya akan diganti dengan buah siap panen.

Setelah proses belajar selesai, kami kembali ke lapangan untuk bermain lagi, dan memberi motivasi adik-adik. Dalam sesi ini setiap kakak Volunteer menggandeng dua anak. Aku kebetulan menggandeng Aris dan Gandhi dari siswa kelas tiga. Aku membekali mereka tentang kuatnya mimpi dan bagaiamana cara meraihnya. Di sela-sela itu, dik Gandhi bertanya, "Kak besok senin kesini lagi?". Mendengar pertanyaan polos itu air mata ku paksa untuk tidak keluar, karena aku tak mau terlihat sedih di mata mereka. Dan jujur aku tidak punya jawaban. Aku memutar otak, agar menemukan jawaban  yang dapat diterima mereka. "Hehehe, kakak cuma hari ini aja ada disini, kakak juga masih sekolah, Kakak juga punya cita-cita sama seperti Gandhi dan Aris yang harus di raih,tapi kalian bisa kok main ke rumah kakak-kakak ini, main ke rumah kak Deby nanti aku ajak ke kebun binatang, belajar tentang hewan-hewan kayak di kelas tadi, oke? Besok pasti ketemu lagi". Kepolosan mereka mampu meruntuhkan perasaan.

Di puncak acara adalah pemberian donasi dari 1000 guru solo kepada pihak sekolah. Ditutup dengan penampilan murid-murid perempuan menari jaranan di tengah lapangan. Dibawah langit mendung mereka melenggak-lenggok menghibur kami semua.

Kami kembali dan beristirahat. Sayang cuaca saat itu hujan. Jadwal Games antar tim dan Volunteer ditiadakan.

Jalanan Menuju Sekolah SDN Kembangsari 3

Potret bangunan sekolah, atap kelas hilang akibat bencana puting beliung

Aris dan Gandhi, Aris ingin menjadi polisi, Gandhi menjadi Tentara


20.00

Malam harinya adalah sesi sharing. Dalam sharing kali ini, aku bertemu orang-orang baru yang sangat inspiratif. Cerita mereka membuat aku merasa masih Nol belum ada apa-apanya. 25 Volunteer yang tergabung dalam TnT perdana adalah orang-orang luar biasa, diatas rata-rata. Beberapa kalimat bijak dari mereka yang masih melekat dalam ingatan hingga hari ini. Gaya bahasa sedikit aku ubah,  kuambil garis besarnya saja.

"Kalo ditanya kenapa mau ikutan kayak gini, gimana ya jawabnya. Ini itu sudah panggilan hati, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata", Mbak berkerudung aku lupa namanya.

"Tadi waktu ngajar kelas 4 , ada anak dia kurang senyum. Saya agak gimana gitu kalo ada orang kurang senyum. Saya coba dekati anak itu. Selesai mengajar saat kita membuat lingkaran, anak itu mencari saya,dia bilang "kak, sama aku ya". Mendengar itu rasanya terharu, berarti saya berhasil". Mas Irfan, Mahasiswa keperawatan dari Solo

"Peduli pendidikan jangan cuma nunggu acara kayak gini. Mulai dari hal kecil di lingkungan kita. Kita semua disini pasti ada tetangga kan, anak-anak itu kita rangkul, bukan hanya kita salahkan". Mas Alif, Mahasiswa Fisika dari Solo

"Anak muda jaman sekarang udah gak jaman berkomentar cuma urun angan, saatnya ikut turun tangan dan memperbaiki yang benar". Mas Randy, Relawan dari Solo

"Yang aku tahu, jaman sekarang kalo mau protes bukan lewat demo-demo. Demo capek-capek juga tidak didengar. seperti orde baru, kita demo bbm tetap saja naik. Jaman sekarang kalo mau protes itu ikut andil dalam kegiatan seperti ini, tujukkan bahwa kita benar-benar peduli". Mas Rahmat, Aktivis dan Traveller dari solo asli sumatra.

"Walaupun mereka tinggal di pelosok, tapi pemikiran dan kecerdasan mereka tak kalah dengan anak-anak kota". Mbak Pipt tentor dari Magelang.

"Saat aku tanya salah satu diantara mereka, apa cita-citamu? anak itu menjawab aku ingin menjadi supir truk. Aku bertanya lagi karena heran. Mengapa? Aku ingin membagikan makanan ke seluruh Indonesia, biar semua penduduk Indonesia bisa makan. Aku terdiam seketika". Mas Petta, Seorang Wasit dari Solo

"Disini kita yang belajar, bukan yang mengajar, mereka begitu menginspirasi". Bu Ria, Guru, Penulis buku, Aktivis dari Solo.

"Aku kangen suasana seperti ini, mangkannya aku antusias banget buat ikutan. Masa-masa seperti inilah yang akan kita kenang nantinya." Mas Bayu, PNS dari Bontang, Kalimantan.

"Aku gak terkenal, dan aku gak pengen terkenal. Aku pengen virusku ini menular ke banyak orang". Rasta, Ketua Regional 1000 Guru Solo.


Malam yang luar biasa. Tak pernah ku bayangkan sebelumnya, aku duduk diantara orang-orang hebat yang kisah dan perkataannya sangat menginspirasi. Kami sama-sama tahu, malam itu adalah malam terakhir kita, diantara kami memutuskan untuk tetap terjaga, agar moment ini tidak segera berakhir.

Boyolali, 31 Januari 2016

Hari terakhir kami di Desa Musuk. Jadwal yang tertulis adalah pengobatan Gratis dan Traveling ke Umbul Ponggok Klaten. Berat jika harus beranjak meninggalkan Desa Musuk beserta kenangan di dalamnya. Tiga hari dua malam yang benar-benar berarti bagiku. Aku merasa beruntung ada ditengah-tengah orang hebat.



Aku hidup atas nama takdir.
Tapi kehidupan, tak pernah jauh dari pilihan.
Setiap pilihan, mengantarku pada harapan dan keyakinan baru.

Tak pernah ada pilihan yang salah,
Yang ada hanya kita kurang berani melangkah.
Melampaui batas-batas imaji yang tak terarah.

Atas nama Takdir, ku ucap syukur dan terima kasih,
Kesempatan, pengalaman, dan pertemana yang diluar bayangan.
Semoga semesta, tak pernah bosan menyaksikan,
Insan mulia penuh keyakinan dan kepedulian memperjuangkan masa depan.

Bangun, mari kita kaitkan tali sepatu kita,
Mari melangkah bersama.
Mengejar asa yang sempat tertunda.

Jangan takut melangkah,
Jangan takut akan sendirian,
Pilihan hidup kita tak seseram itu.


Terima kasih Tim dan seluruh Volunteer 1000 guru Solo. Tulisan ini muncul berkat perjumpaan singkat kita. Semoga kelak ku dapati kalian semua, memeluk mimpi-mimpi kalian.

Para penggerak perabadan. Kepedulian mereka, harapan bangsa.



Solo, 4 Februari 2016
Ditulis tanpa praduga.
Dengan perasaan bahagia.


Selasa, 02 Februari 2016

Prolog Masa Muda

Berawal dari kekuatan kata dan pemikiran pak Anies Baswedan. Betapa aku sangat mengagumi cara pandang beliau terhadap Indonesia. Optimisme beliau bagaikan gelombang eloktomagnetik yang merambat cepat di telinga, menghantarkan semangat positif tentang Indonesia kepada anak-anak muda.

Aku adalah satu dari sekian banyak pemuda Indonesia yang tersihir oleh kalimat sederhana yang dituturkan beliau “Saya mengajak kita semua untuk turun tangan, bukan urun angan atau lipat tangan. Masalah di negeri ini terjadi bukan karena orang jahat, tapi orang baik yang memilih diam". Mungkin sebagian dari kita menyakapi kalimat tersebut sebagai bentuk dukungan kepada pak Anies saat pencalonan presiden 2014. Tapi bagiku, kalimat tersebut bukan hanya sekedar soal dukungan dan gejolak politik saat itu, tapi juga sebuah perenungan baru. Setiap katanya tersirat makna yang menunggu untuk dipikirkan dalam-dalam.

Kalimat beliau ku tafsirkan bahwa Negeri ini butuh anak muda yang melakukan aksi nyata, turut ambil bagian mengatasi permasalahan. Bukan sekedar anak muda yang diam, berkomentar negatif tentang Indonesia, padahal itu tanah airnya sendiri. Tanah kelahirannya. Airya dia minum. Sumber Daya Alamnya dia explore. Dulu aku kayak gitu, tapi sekarang kalo mau ngata-ngatain Indonesia mikir-mikir dulu. Aku udah kasih apa nih sama Indonesia? Indonesia butuh optimisme para pemudanya. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengumpat kegelapan. Aku bertekad untuk turut ambil bagian dan menyalakan harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Tak perlu harus menunggu menjadi orang besar untuk mengubah wajah Indonesia, cukup langkah kecil yang nyata dengan niat membawa perubahan.

Sejak saat itu, aku membuka mata, telinga, dan hati. Aku mencoba lebih peka terhadap apa yang ada di sekitarku. Langkah kecil yang aku ambil adalah menjadi seorang relawan. Bukan karena trend, tapi memang hati ini merasa terpanggil. Rasa turut ambil bagian selalu lebih besar dibandingkan jika hanya duduk diam, menghabiskan uang bulanan. Segala jenis kegiatan sukarelawan sering aku ikuti. Mulai dari yang berbau event budaya, sosial hingga baru-baru ini merambah dunia pendidikan.

Ternyata jadi relawan itu gak gampang. Tidak semua temen-temen sesuiamu punya pandangan yang sama. Belum tentu juga lingkungan sekitarmu memberi respon positif, atau malah ada yang memandang sebelah mata, menganggap hal yang aku lakukan itu buang-buang waktu. Gak dapet duit tapi justru ngeluarin duit. Pernah sedikit sakit hati sama omongan temen, tentang kegitan kayak gini. jurus terjitu menanggapinya cukup diam dan buktikan! Teringat perdebatan teman di beranda fesbuk. Perdebatan kecil itu melahirkan kalimat bijak "Balas dendam terbaik adalah dengan karya dan prestasi. Tapi semoga kita berkarya dan berprestasi tidak untuk balas dendam"

Seperti yang sudah aku singguh sedikit diatas, bahwa baru-baru ini aku berkesempatan tergabung dalam relawan 1000 guru regional Solo, dimana lingkupnya adalah sebuah pendidikan, bukan sebuah event budaya yang sering aku ikuti. Dari segi rasa dan pengalaman pasti berbeda, dan jika aku teruskan disini, aku tau pasti akan bosan membacanya. Jadi ku putuskan akan ku tulis pada blog selanjutnya. Semoga suka ya :)

Sebagai penutup di tulisan kali ini,

Jika bukan kita yang memulainya di Negeri sendiri, lalu kapan keadaan ini akan berubah?- Anies Baswedan

Jika tidak bisa bertindak, minimal nyalakan lilin, dan berhenti kutuk kegelapan! - Aku