Minggu, 08 November 2015

Panca temanku, kau yang paling tahu

Panca temanku, aku datang padamu untuk berbagi cerita. Aku memang bukan teman yang baik. Mencarimu hanya untuk mendengar ceritaku, dan parahnya itu bukan cerita indah seperti dongeng yang berakhir gembira dan selalu menarik untuk dibaca berulang. Aku heran, kau sama sekali tak pernah marah aku perlakukan seperti itu. Aku kadang malu sendiri, tak tau harus bagaimana membalas kebaikanmu yang tak pernah ada habisnya. Kau teman luar biasa.

Kau yang paling tahu, bagaimana aku mengaguminya
Kau yang paling tahu, berapa lama aku menantianya
Kau yang paling tahu, semua ceritaku tentang dia

Apalagi yang ingin kau ceritakan malam ini? Sebelum kau bercerita, bisakah kau berjanji tak akan menangis setelahnya? Tanyamu dengan penuh harap

Sebisa mungkin. Namun nanti jika kau dapati air mata ini menetes, itu tandanya aku tak siap menahan segala sakit. Jadi ku mohon untuk ribuan kalinya, mengertilah Panca.

Kadang aku pernah mendoakanmu untuk mati rasa saja. Agar kau tak perlu repot-repot lagi mengenal sakit, karena mengaguminya. 

Hahaha, mungkin doa mu masih terlalu lemah. Tak sekuat doaku untuk diriku sendiri. Tapi terima kasih telah mendoakanku.

Dalam doaku, aku berharap agar hati ini selalu siap. Siap bahwa aku bukanlah satu-satunya yang kau pelakukan dengan baik, dan kau beri perhatian sempurna. Siap bahwa selama ini aku hanya salah mengartikan kebaikan dan perhatianmu. Gumamku dalam hati.

bersambung...

Solo, 8 November 2015
Gerimis menemani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar