Jumat, 01 April 2016

Selisih Seminggu

2 April 2016

Entah sudah berapa banyak kebetulan diantara kita
Mungkin kau tak banyak memikirkan tentang itu
Karena sejatinya aku lah yang selalu berlebihan menyikapi kebetulan diantara kita berdua

Semesta itu baik, menghadiahkan banyak kebetulan untuk kita
Rumah kita bersebelahan, dari kecil kita main bareng, pake kaos teletabies yang sama, sama-sama suka ngambek kalo kalah main petak umpet, foto dengan pose sama pegang topi, sekolah di tempat yang sama dari tingkat TK sampe SMK, kadang aku mikir ini sinetron bukan sih? Ah tapi sinetron terlalu banyak drama, sedang kisah kita nyata apa adanya 😃

Hingga pada sebuah putaran waktu, kita dipisahkan dalam sebuah kesempatan yang sama. Nyesek tapi bangga, gimana tuh? Saat itu yang ada hanya doa untuk kebaikanmu, dan air mata untuk melegakan perasaanku sendiri.

Kebetulan terbesar yang tak pernah aku lupa, bahwa kita ini seorang pemimpi. Mimpi-mimpi kita tinggi, salah satu mimpi kita bersama adalah kembali pulang membawa kebanggan apa yang telah kita berdua raih di tanah rantau  lalu orang tua kita tersenyum seolah usaha mereka tak sia-sia, seolah keringat mereka menguap menjadi rintik hujan yang meneduhkan.

Atas nama mimpi, kamu dengan rutinitasku, aku dengan aktivitasku. Kita sama-sama berkejar dengan waktu hingga komunikasi diantara kita tak sebanyak dulu. Aku memaklumi, kamu melumprahi. Kita dewas dengan cara kita masing-masing.

Selamat Ulang Tahun, usia belasan sudah mulai kau tinggalkan. Tetap menjadi sosok yang aku kenali, yang aku kagumi, yang selalu aku rindu untuk ku jumpai.

Jangan karena kita sibuk membahagiakan orang lain, kita lupa membahagiakan diri sendiri. Berbahagialah, karena kau pantas untuk bahagia 😊

Doaku tak pernah berhenti disini, sama seperti yang kau ucap seminggu lalu saat aku berjumpa dengan tanggal kelahiranku. Pesan singkatmu begitu sederhana, namun mampu membuatku menitikan air mata, sebab perjumpaan kita sebatas kata.

Selamat ulang tahun, Din! Selesaikan dan mari kita pulang mengukir senyum bapak-ibuk yang selalu mencemaskan kita di perantauan.

Ditulis dengan penuh rindu, 2 April 2016
Aku, sepupu, tetangga, teman main, kakak kelas, sekaligus musuh bebuyutanmu