Selasa, 18 Agustus 2015

aswangga


panca inderaku bekerja bagai seharusnya
upahnya bukan recehan yang melimpah,
tapi puas jiwa mendapati diri
memeluk mimpi-mimpi


begitulah laku aswangga menyemangati diri sendiri.

Dimataku, 
aswangga adalah bocah gesit, lincah, cekatan diantara teman seusianya
hidup berselimut doa dan harapan sepanjang malam,
dan kebahagiaan tak pernah rela jika harus jauhdari bocah ini
entah apa yang membuat aswangga begitu istimewa

tetaplah hidup dalam bayang dan angan
agar selamanya aku terus bermimpi
menjumpaimu dalam sosok yang tak lagi hanya ilusi

Jalan Merdeka

Sayang,
duduklah sebentar,
Bibirku bergetar tak sabar,
Seolah tak ingin ketinggalan
Bercuap tentang kemerdekaan
Kesoktahuanku ini hanya ingin kau dengarkan

Sayang,
mari mundur ke belakang,
mengorek masa lalu,
tapi bukan tentang kita,
tentang  tanah kita

Jika kita toleh ke belakang
Bagaimana pejuang, berjuang
Dengan tekad yang tak pernah goyang
Dengan semangat yang tak pernah hilang
Mereka siap menentang

Kita sama-sama pernah membaca, dan medengar cerita perjuangan
Jalan merdeka itu panjang sayang, sangat panjang
Membentang ratusan tahun dihadapan pejuang
Tak pernah terlihat lapang

Tapi hari ini sayang, semua menyeru merdeka, kau tau apa artinya?

Tanah kita telah merdeka sayang *meneteskan air mata*

Lantas mengapa kau menangis sayang?