Minggu, 08 Mei 2016

Tamu Yang Sopan dan Bijaksana


Selamat malam, langit tak berbintang, awan mendung, dan lagu sahdu.
Aku rindu kehangatan malam kita seperti ini,
Tak ada tulisan tentang kita sejak beberapa waktu lalu,
Aku rindu pada malam-malam sendu-ku.

Kali ini aku datang lagi, aku ingin bercerita,
Ku rasa kau sudah bisa menebaknya,
Apalagi kalo bukan tentang rasa dan segala rintihan tangisnya.

Kemarin, aku kedatangan tamu.
Sebelumnya, aku tak punya firasat akan kedatangan tamu,
Semesta juga tak menujukkan tanda-tanda akan ada tamu,
Tak ada kupu-kupu yang hinggap di jendala kamar,
Langit-langit di kamarku pun juga sama, hanya terhias lampu,

Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu,
Aku mengernyitkan dahi, memutar otak,
mengingat apa aku punya janji, atau
mungkin ada hutang yang belum aku lunasi
jadi ada tamu yang mencariku...
Ah, terlalu lama aku menerka,

Membiarkan seorang menunggu tidak ada dalam adab menerima tamu,
Itu ajaran guru ngajiku dulu,
Lantas, aku lekas buka-kan dia pintu,

Aku tak mengenal siapa tamu-ku ini,
Sekejap kemudian aku dirubung tanda tanya,

Sebelumnya ku persilahkan dia duduk,
Dia tersenyum, manis, bak martabak coklat.
Atas nama kesopanan, aku membalas senyumannya.
Lalu dia memperkenal diri,
Dan aku masih sama, atas nama kesopanan,
Aku sambut baik kehadirannya.

Keesokan harinya dia datang lagi,
Dia membawa begitu banyak tawa,
Aku terheran, dia tak butuh waktu lama,
Untuk membuatku tertawa,

Keesoknya lagi, dia datang lagi,
Karena ku rasa dia baik,
Kusaijakn hidangan yang ada.
Ku-suguhkan dengan cara yang aku punya.

Waktu enggan berjalan lagi,
Ia lebih suka berlari,
hari-hari lebih cepat berganti,
Dia masih saja sama,
Datang bertamu, membawakan segenggam cerita,
Dengan ribuan tawa di dalamnya,
Aku bahagia, bahkan lebih bahagia dari hari sebelumya.

Hingga dalam sebuah malam,
Dia berbicara tentang sebuah kisah tanpa cerita,
Aku kaget, bingung, sedih, seneng, dan entahlah...
Saat itu, aku hanya bisa menutup hidung,
Itulah caraku untuk menahan air mata.
Sebab yang iya ceritakan itu begitu rumit, tak seperti biasa.

Mendengar ceritanya,
Aku diam saja, aku takut pada ketakutanku sendiri.
Melihat sikapku, dia seolah kecewa,
Aku bukan pendengar yang baik lagi,
Mungkin begitu baginya,
Tak banyak yang bisa diharapkan,

Sejak malam itu, 
Dia tak pernah bertamu lagi

Sejak malam itu,
Aku tak pernah mendengar suara dan tawa renyahnya,
Aku tak pernah mendengar cerita, dan petuah manisnya,

Sejak malam itu,
Aku malu pada diriku,
Aku tak tau adab menerima tamu,

Sejak malam itu,
Aku kehilangan tamu yang sopan dan bijaksana,

Dan sejak malam itu,
Aku tak pernah berhenti berdoa untuk kebaikannya,

"Seandainya aku dan segala ke-aku-an-ku meredup, aku yakin tak akan ada yang sesedih ini."



Dari Aku,
Tuan Rumah Yang Senang Kau Kunjungi