Sabtu, 14 September 2013

Kamu percaya?

Takdir.
Satu kata yang mau gak mau harus ku percaya.
Takdir.
Satu kata yang nyata adanya.
Takdir.
Satu kata yang tak ku ragukan lagi kebenarannya.

Apa kamu percaya takdir?
Aku harap, kamu sependapat denganku untuk kali ini.
Iya, kali ini saja.

Aku ingin bercerita,
tentang bagaimana aku berkenalan dengan takdir,
lalu aku bersahabat dengannya...

Sejak aku lahir, takdir sudah menyapaku.
Tapi aku belum bisa membalasnya, karena aku tak tahu siapa dia?
Hingga aku tumbuh menjadi remaja.
Aku baru mengenalnya.
Aku mengenalnya lewat orang tua, dan guru agama khususnya.
Karena sejatinya hakekat takdir sangat erat hubungannya dengan sang Pencipta.

Hari berganti, 
aku membiasakan bahkan memaksakan diri untuk akrab dengan takdir.
Lambat laun,
Aku mulai bisa bersahabat dengannya.
Puncaknya ketika aku berkali-kali gagal dalam seleksi masuk perguruan tinggi.
Dari kegagalan itu aku mulai berdamai dengannya.
Hingga kini, Takdir menjadi sahabatku.