Berawal dari kekuatan kata dan pemikiran pak Anies Baswedan. Betapa aku sangat mengagumi cara pandang beliau terhadap Indonesia. Optimisme beliau bagaikan gelombang eloktomagnetik yang merambat cepat di telinga, menghantarkan semangat positif tentang Indonesia kepada anak-anak muda.
Aku adalah satu dari sekian banyak pemuda Indonesia yang tersihir oleh kalimat sederhana yang dituturkan beliau “Saya mengajak kita semua untuk turun tangan, bukan urun angan atau lipat tangan. Masalah di negeri ini terjadi bukan karena orang jahat, tapi orang baik yang memilih diam". Mungkin sebagian dari kita menyakapi kalimat tersebut sebagai bentuk dukungan kepada pak Anies saat pencalonan presiden 2014. Tapi bagiku, kalimat tersebut bukan hanya sekedar soal dukungan dan gejolak politik saat itu, tapi juga sebuah perenungan baru. Setiap katanya tersirat makna yang menunggu untuk dipikirkan dalam-dalam.
Kalimat beliau ku tafsirkan bahwa Negeri ini butuh anak muda yang melakukan aksi nyata, turut ambil bagian mengatasi permasalahan. Bukan sekedar anak muda yang diam, berkomentar negatif tentang Indonesia, padahal itu tanah airnya sendiri. Tanah kelahirannya. Airya dia minum. Sumber Daya Alamnya dia explore. Dulu aku kayak gitu, tapi sekarang kalo mau ngata-ngatain Indonesia mikir-mikir dulu. Aku udah kasih apa nih sama Indonesia? Indonesia butuh optimisme para pemudanya. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengumpat kegelapan. Aku bertekad untuk turut ambil bagian dan menyalakan harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Tak perlu harus menunggu menjadi orang besar untuk mengubah wajah Indonesia, cukup langkah kecil yang nyata dengan niat membawa perubahan.
Sejak saat itu, aku membuka mata, telinga, dan hati. Aku mencoba lebih peka terhadap apa yang ada di sekitarku. Langkah kecil yang aku ambil adalah menjadi seorang relawan. Bukan karena trend, tapi memang hati ini merasa terpanggil. Rasa turut ambil bagian selalu lebih besar dibandingkan jika hanya duduk diam, menghabiskan uang bulanan. Segala jenis kegiatan sukarelawan sering aku ikuti. Mulai dari yang berbau event budaya, sosial hingga baru-baru ini merambah dunia pendidikan.
Ternyata jadi relawan itu gak gampang. Tidak semua temen-temen sesuiamu punya pandangan yang sama. Belum tentu juga lingkungan sekitarmu memberi respon positif, atau malah ada yang memandang sebelah mata, menganggap hal yang aku lakukan itu buang-buang waktu. Gak dapet duit tapi justru ngeluarin duit. Pernah sedikit sakit hati sama omongan temen, tentang kegitan kayak gini. jurus terjitu menanggapinya cukup diam dan buktikan! Teringat perdebatan teman di beranda fesbuk. Perdebatan kecil itu melahirkan kalimat bijak "Balas dendam terbaik adalah dengan karya dan prestasi. Tapi semoga kita berkarya dan berprestasi tidak untuk balas dendam"
Seperti yang sudah aku singguh sedikit diatas, bahwa baru-baru ini aku berkesempatan tergabung dalam relawan 1000 guru regional Solo, dimana lingkupnya adalah sebuah pendidikan, bukan sebuah event budaya yang sering aku ikuti. Dari segi rasa dan pengalaman pasti berbeda, dan jika aku teruskan disini, aku tau pasti akan bosan membacanya. Jadi ku putuskan akan ku tulis pada blog selanjutnya. Semoga suka ya :)
Sebagai penutup di tulisan kali ini,
Jika bukan kita yang memulainya di Negeri sendiri, lalu kapan keadaan ini akan berubah?- Anies Baswedan
Jika tidak bisa bertindak, minimal nyalakan lilin, dan berhenti kutuk kegelapan! - Aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar