Karena aku pelupa,
Untuk itu aku menulis
Menulis adalah cara ku mengingat,
Sejak kupahami alur semesta
Bahwa,
Ingatan manusia akan berhenti di tangan sang pengesa
Tapi rangkaian kata, akan terus terbaca
Dan meninggalkan makna bagi pembacanya
Sedikit cerita ingin aku bagikan kepada kamu, kalian, dan kalian semua tentang jalan hidup yang aku pilih untuk menikmati masa muda. Seperti sebuah judul lagu ketjil bergerak, bahwa "Energi mudamu, Senjatamu !". Bagiku, tua itu pasti dan masa muda itu satu kali. Selagi muda, ayo turut ambil bagian, jangan hanya duduk diam berlipat tangan. Ini adalah tentang pengalamanku tergabung dalam volunteer 1000 guru. Pengalamanku aku kemas dalam sebuah tulisan blog. Dengan harapan, sedikit banyak kalian mampu menebar harapan dan kepedulian untuk lingkungan sekitar kalian sendiri, Langsung saja ya.
Secara garis besar 1000 guru adalah gerakan peduli pendidikan di daearah pelosok Indonesia. Awal aku tahu tentang 1000 guru adalah lewat twitter, dan TnT (Traveling n Teaching) pertama yang aku tahu adalah di daerah Sulawesi, tapi sayang saat itu belu bisa bergabung karena terkendala biaya. Aku tak berkecil hati, ternyata sekarang 1000 guru ada di setiap kota dan ada pengurus regionalnya, Alhamdulillah. Semenjak tahu ada regional Solo, aku tiap hari kepo kan bakal diadain TnT. *Sebelumnya juga tahu ada 1000 guru Surabaya TnT 7 tapi ternyata pendaftaran udah tutup. Harapannya ya pada TnT Solo.
Surabaya, 17 Januari 2016
Pendaftaran TnT perdana 1000 guru Solo di tutup hari ini tanggal 17 Januari 2016 pukul 12.00. Pendaftaran ditutup lebih cepat dari jadwal sebenernya (dari seminggu menjadi hanya dua hari), dikarena jumlah pendaftar melebihi kapasitas. H-2 jam dari penutupan aku baru mengisi aplikasi. Beruntungnya aku masih membaca pengumuman bahwa jadwal dimajukan. Aku mengisi form aplikasi apa adanya, jawaban sederhan tanpa aku buat-buat, dan selalu aku sertakan bismilah disetiap aku menekan tombol send dalam alur pendaftran online. Aku tak berharap banyak untuk diterima, mengingat aku daftar terlalu mepet dengan deadline, takut tidak terbaca pihak penyelenggara. Dan dalam benakku, jika nanti aku tak lolos masih ada TnT berikutnya. Aku mencoba dewasa, untuk tidak terlalu mengharap pada sesuatu, agar jika aku tidak mendapatkannya aku tidak kecewa terlalu dalam.
Surabaya, 18 Januari 2016
Pagi hari aku mendapat sebuah email, tertulis dari seribuguru.
"Alhamdulillah, amanah pertama di tahun 2016", gumamku dalam hati saat itu. Ternyata pihak penyelenggara melakukan proses seleksi dengan sangat baik dan cukup selektif. (Di instagram 1000 gugu Solo di post sekitar pukul 1 malam masih melakukan proses seleksi, kalian keren!). Selanjutnya, yang ada di pikiranku adalah meminta ijin Bapak-Ibuk. Loh kok baru ijin? Dari dulu kalo aku ikut acara selalu daftar dulu baru ijin, kenapa? karena biar diijinin, gak mungkin kan orang tua ngelarang kalo kita udah daftar dan yang daftar itu banyak. Tapi ternyata, yang satu ini agak alot, karena timingnya bersamaan dengan maraknya organisasi menyimpang. Ibuk juga sempet nanyain, kok bayar? tapi aku jelasin kalo itu buat donasi dan akomodasi selama kegiatan. Aku tahu kalo udah berbau duit agak berat, aku meminta ibuk untuk membayar separuhnya saja, separuhnya lagi uang sisa bidikmisiku bulan lalu. Dengan beberapa argumen yang "agak ngeyel" dan sedikit koalisi, alhamdulillah ijin Bapak-Ibuk dalam genggaman. Hari berikutnya aku pergi ke bank untuk transfer sesuai yang di perintahkan.
Oh ya, aku lupa. Sebelum mendaftar aku tidak membaca poster secara detail, jadi setelah dinyatakan lolos seleksi, aku baru tahu kalo ternyata TnT perdananya tanggal 29-31 Januari 2016. Galau mau lanjut atau enggak, soalnya masih dalam masa liburan di Surabaya, masih pingin lama di rumah, masih kurang puas ngerasain masakaan ibuk, masih kurang puas berantem sama mbak di rumah, dan bahkan belum ketemu temen-temen lain. Tapi bismillah hasrat turut ambil bagian dan mengabdi lebih kuat dari itu semua.
Surabaya, 28 Januari 2016
Berpamitan adalah hal sakral dalam hidupku. Aku memaknai berpamitan sebagai bentuk keikhlasan dan kepercayaan antara yang meninggalkan dan ditinggalkan. Dan sudah menjadi tradisi setiap kali ada sesi berpamitan, air mata tak pernah bisa ku halau untuk tidak turun. "Selamat tinggal, Surabaya. sampai jumpa pada kepulanganku berikutnya, kejutan apa lagi yang akan kau beri?", pikirku saat kereta yang aku tumpangi berlalu pergi. Memangkas waktu bersama keluarga dan orang yang kita sayang emang bukan hal mudah, tapi jika niatnya baik pasti kedepannya juga bakal baik. Aku percaya itu.
Solo, 29 Januari 2016
07.00
Jumat, akhirnya hari bersejarah itu datang juga. Sebelum keberangkatan, pagi harinya aku mondar mandir kesana kemari menyiapkan perlengkapan pribadi, kebetulan dalam pembagian tugas mengajar kelas 3 aku bertanggung jawab membuat co-Card dan materi peraga pengenalan buah-buah, tema kelas 3 sendiri yaitu Alam dan Pengukuran. Mendekati waktu keberangkatan aku dilanda perasaan cemas yang sangat tidak biasa, hingga jari tanganku bergetar dan susah dihentikan. Perasaan cemas itu muncul lantaran aku sama sekali tidak ada pengalaman dalam pendidikan, mengajar di depan kelas, sedangkan setelah kuamati lewat obrolan grup, rata-rata para volunteer yang lolos pernah mengukuti TnT 1000 guru atau mereka memilik basic dalam hal pendidikan. Jika mungkin ini terlihat berlebihan, silahkan tanya teman kos ku Winda, dia heran mendapati raut muka ku yang tegang setengah mati tidak seperti biasanya. Disaat-saat seperti itu selalu muncul ajakan setan untuk berhenti dan tidak melanjutkan lagi, tapi hati dan pikiranku masih bisa berpikir jernih, jika aku mundur, pengorbananku meninggalkan rumah dan memangkas waktu liburan itu sia-sia.
15.30
Meeting Point TnT 1000 guru Solo adalah pukul 16.00 WIB di Keraton Kasunanan Surakarta. Berangkat bermodal niat dan bismillah disaksikan oleh hujan yang sedikit meredam kecemasanku. Sesampainya di tempat pertemuan, aku berkenalan satu per satu, dalam perkenalan tersebut ku jumpai wajah-wajah yang benar-benar baru, tak pernah bertemu sebelumnya. Berbeda dengan volunteer Event Solo yang selalu bertemu dengan orang-orang sama.
17.00
Setelah semua tim dan Volunteer lengkap, kami berangkat. Disang (Red : truk TNI) adalah transportasi yang mengantarkan kami ke Desa Musuk, Kab. Boyolali, tujuan kami. Naik disang mengingatkan ku pada kegiatan pramuka bertahun-tahun silam, bersama orang-orang hebat yang saling menguatkan satu sama lain. Perjalan kami tempuh selama 2 jam lebih. Medan yang kami lalui tidak gampang tapi juga tidak sulit, jalannya hanya setapak, cukup menanjak, dan gelap. Perjalanan kita sempat terhenti karena terdapat gundukan pasir di pinggir jalan. Volunteer laki-laki dengan sigap turun untuk melihat kondisi jalan dan memastikan bisa maju atau tidak. "Yang dibelakang, pegangan ya" teriak pak Supir. Rasa kantuk seketika hilang dan berubah menjadi tegang. Alhamdulillah, disang kami berhasil melewati gundukan pasir. Tapi tak berselang lama, kami menjumpai ada mobil di depan kami, karena jalan hanya muat satu mobil, akhirnya sang pengendara mobil mengalah, ia berjalan mundur dan mempersilahkan kami jalan terlebih dahulu.
Boyolali 20.00
Hawa dingin mulai menyelimuti. Sambutan masyarakat desa Musuk seolah menghangatkan suasana malam itu. Kami dari 1000 guru Solo telah disiapkan sebuah rumah yang jarang ditinggali tapi masih terawat sebagai sarana kami selama disini. Malam itu kami habiskan dengan pengenalan dengan Ketua RT dan Ketua Lurah. Ketua lurahnya disini muda banget dan orangnya lucu. Kata pak Lurah, sebagian besar mata pencaharian warga disini adalah petani dan berkebun mawar. Itu terlihat dari setiap halaman rumah warga selalu ada bunga mawar. Selanjutnya kami para volunteer di briefing tentang teknis mengajar besok, mulai dari ice breaking hingga pengenalan pohon impan. Suasana malam menjadi lebih manis dari malam-malam sebelumnya.
Boyolali, 30 Januari 2016
05.00
Pagiku lebih dingin dari biasanya, aku bangun dan bergegas melaksanakan sholat subuh bersama teman-teman lainnya. Hari ini aku akan bertemu patriot-patriot hebat, aku siap mendengar mimpi-mimpi dan khayalan mereka. Sebelum berangkat menuju SD, kami berdoa dan di briefing, satu kalimat dari salah satu Tim yang aku ingat adalah "Anak-anak disini sangat mencintai sekolahnya, walaupun sekolah mereka apa adanya, mereka selalu datang pagi untuk menyapu sekolahnya tanpa ada yang menyuruh" - Mas Is. Mendengar perkataan itu, hatiku tersentuh. Rasanya sungguh tak sabar bertemu dengan mereka.
Perjalan kami menuju ke SDN 3 Kembangsari cukup mudah hanya berjalan ke atas sekitar 15 menit dari rumah singgah kami. Saat kami datang, semua murid keluar kelas dan menyaksikan kami satu per satu. Aku mengamati keadaan sekolah, dan ternyata memang ada beberapa kelas yang atapnya rusak terkena angin puting beliung, oleh sebab itu TnT kali ini bernama "Atap untuk Kami". Melihat keadaan sekolah dan senyuman adik-adik SDN 3 Kembangsari sangat bertolak belakang. Ribuan tanya di meyerang logika, bagaimana bisa mereka sebahagia ini dengan keaadan seperti yang aku lihat saat ini? Satu pelajaran pertama untuk diriku, bersyukur. Apapun yang kita punya saat ini itu yang harus kita syukuri.
Sebagai permulaan, seluruh tim dan volunteer mengajak adik-adik semua Ice Breaking, agar mereka tidak kaget dengan kehadiran kita. Melihat tawa lepas mereka sama halnya mendapati embun di pagi hari, menyejukkan. Antusias adik-adik dan para Volunteer 1000 guru begitu luar biasa.
Selanjutnya, kami volunteer mulai mengajar di kelas masing-masing. Aku kebagian mengajar kelas 3 bersama kak Hesti (Mahasiswa FKG), Kak Rahmat (Aktivis dan traveller), Kak Alif (Mahasiswa Fisika), dan kak Viska (Guru SMP). Sebelum kami berlima masuk, adik-adik sudah di depan pintu, menerka siapa yang akan mengajari mereka, aku geli melihat tingkah mereka, mengingatkan pada masa kecilku dulu. hehehe. Saat kami memasuki kelas mereka langsung duduk di kursi masing-masing tanpa kami komando. Kami mulai perkenalan, mereka mulai bercerita tentang apa kegemaran mereka dan cita-cita mereka. Kelas tiga dengan 12 murid, memiliki cita-cita yang kompak, sebagian polisi, sebagian tentara, dan tiga siswa putri memlih menjadi guru semua. Dalam hati ku aminkan semua apa yang menjadi keinginan mereka, semoga semesta turut mengaminkannya.
Proses belajar yang kami terapkan yaitu fun learning, semua berbentuk permainan, dan ada reward bagi meraka yang berani unjuk gigi. Aku turut menyumbangkan komik karya ku sendiri sebagai rewardnya. Rasanya sangat membahagiakan, jika karya kita bermanfaat untuk orang lain dan dapat menghibur mereka. Dipenghujung proses belajar, ada sesi penempelan pohon impian. Pohon impian adalah saksi bahwa mimpi itu milik siapa saja, dan biarkan ia tumbuh seriring berjalannya waktu. Daun yang berguguran, nantinya akan diganti dengan buah siap panen.
Setelah proses belajar selesai, kami kembali ke lapangan untuk bermain lagi, dan memberi motivasi adik-adik. Dalam sesi ini setiap kakak Volunteer menggandeng dua anak. Aku kebetulan menggandeng Aris dan Gandhi dari siswa kelas tiga. Aku membekali mereka tentang kuatnya mimpi dan bagaiamana cara meraihnya. Di sela-sela itu, dik Gandhi bertanya, "Kak besok senin kesini lagi?". Mendengar pertanyaan polos itu air mata ku paksa untuk tidak keluar, karena aku tak mau terlihat sedih di mata mereka. Dan jujur aku tidak punya jawaban. Aku memutar otak, agar menemukan jawaban yang dapat diterima mereka. "Hehehe, kakak cuma hari ini aja ada disini, kakak juga masih sekolah, Kakak juga punya cita-cita sama seperti Gandhi dan Aris yang harus di raih,tapi kalian bisa kok main ke rumah kakak-kakak ini, main ke rumah kak Deby nanti aku ajak ke kebun binatang, belajar tentang hewan-hewan kayak di kelas tadi, oke? Besok pasti ketemu lagi". Kepolosan mereka mampu meruntuhkan perasaan.
Di puncak acara adalah pemberian donasi dari 1000 guru solo kepada pihak sekolah. Ditutup dengan penampilan murid-murid perempuan menari jaranan di tengah lapangan. Dibawah langit mendung mereka melenggak-lenggok menghibur kami semua.
Kami kembali dan beristirahat. Sayang cuaca saat itu hujan. Jadwal Games antar tim dan Volunteer ditiadakan.
20.00
Malam harinya adalah sesi sharing. Dalam sharing kali ini, aku bertemu orang-orang baru yang sangat inspiratif. Cerita mereka membuat aku merasa masih Nol belum ada apa-apanya. 25 Volunteer yang tergabung dalam TnT perdana adalah orang-orang luar biasa, diatas rata-rata. Beberapa kalimat bijak dari mereka yang masih melekat dalam ingatan hingga hari ini. Gaya bahasa sedikit aku ubah, kuambil garis besarnya saja.
"Kalo ditanya kenapa mau ikutan kayak gini, gimana ya jawabnya. Ini itu sudah panggilan hati, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata", Mbak berkerudung aku lupa namanya.
"Tadi waktu ngajar kelas 4 , ada anak dia kurang senyum. Saya agak gimana gitu kalo ada orang kurang senyum. Saya coba dekati anak itu. Selesai mengajar saat kita membuat lingkaran, anak itu mencari saya,dia bilang "kak, sama aku ya". Mendengar itu rasanya terharu, berarti saya berhasil". Mas Irfan, Mahasiswa keperawatan dari Solo
"Peduli pendidikan jangan cuma nunggu acara kayak gini. Mulai dari hal kecil di lingkungan kita. Kita semua disini pasti ada tetangga kan, anak-anak itu kita rangkul, bukan hanya kita salahkan". Mas Alif, Mahasiswa Fisika dari Solo
"Anak muda jaman sekarang udah gak jaman berkomentar cuma urun angan, saatnya ikut turun tangan dan memperbaiki yang benar". Mas Randy, Relawan dari Solo
"Yang aku tahu, jaman sekarang kalo mau protes bukan lewat demo-demo. Demo capek-capek juga tidak didengar. seperti orde baru, kita demo bbm tetap saja naik. Jaman sekarang kalo mau protes itu ikut andil dalam kegiatan seperti ini, tujukkan bahwa kita benar-benar peduli". Mas Rahmat, Aktivis dan Traveller dari solo asli sumatra.
"Walaupun mereka tinggal di pelosok, tapi pemikiran dan kecerdasan mereka tak kalah dengan anak-anak kota". Mbak Pipt tentor dari Magelang.
"Saat aku tanya salah satu diantara mereka, apa cita-citamu? anak itu menjawab aku ingin menjadi supir truk. Aku bertanya lagi karena heran. Mengapa? Aku ingin membagikan makanan ke seluruh Indonesia, biar semua penduduk Indonesia bisa makan. Aku terdiam seketika". Mas Petta, Seorang Wasit dari Solo
"Disini kita yang belajar, bukan yang mengajar, mereka begitu menginspirasi". Bu Ria, Guru, Penulis buku, Aktivis dari Solo.
"Aku kangen suasana seperti ini, mangkannya aku antusias banget buat ikutan. Masa-masa seperti inilah yang akan kita kenang nantinya." Mas Bayu, PNS dari Bontang, Kalimantan.
"Aku gak terkenal, dan aku gak pengen terkenal. Aku pengen virusku ini menular ke banyak orang". Rasta, Ketua Regional 1000 Guru Solo.
Malam yang luar biasa. Tak pernah ku bayangkan sebelumnya, aku duduk diantara orang-orang hebat yang kisah dan perkataannya sangat menginspirasi. Kami sama-sama tahu, malam itu adalah malam terakhir kita, diantara kami memutuskan untuk tetap terjaga, agar moment ini tidak segera berakhir.
Boyolali, 31 Januari 2016
Hari terakhir kami di Desa Musuk. Jadwal yang tertulis adalah pengobatan Gratis dan Traveling ke Umbul Ponggok Klaten. Berat jika harus beranjak meninggalkan Desa Musuk beserta kenangan di dalamnya. Tiga hari dua malam yang benar-benar berarti bagiku. Aku merasa beruntung ada ditengah-tengah orang hebat.
Surabaya, 17 Januari 2016
Pendaftaran TnT perdana 1000 guru Solo di tutup hari ini tanggal 17 Januari 2016 pukul 12.00. Pendaftaran ditutup lebih cepat dari jadwal sebenernya (dari seminggu menjadi hanya dua hari), dikarena jumlah pendaftar melebihi kapasitas. H-2 jam dari penutupan aku baru mengisi aplikasi. Beruntungnya aku masih membaca pengumuman bahwa jadwal dimajukan. Aku mengisi form aplikasi apa adanya, jawaban sederhan tanpa aku buat-buat, dan selalu aku sertakan bismilah disetiap aku menekan tombol send dalam alur pendaftran online. Aku tak berharap banyak untuk diterima, mengingat aku daftar terlalu mepet dengan deadline, takut tidak terbaca pihak penyelenggara. Dan dalam benakku, jika nanti aku tak lolos masih ada TnT berikutnya. Aku mencoba dewasa, untuk tidak terlalu mengharap pada sesuatu, agar jika aku tidak mendapatkannya aku tidak kecewa terlalu dalam.
Surabaya, 18 Januari 2016
Pagi hari aku mendapat sebuah email, tertulis dari seribuguru.
Oh ya, aku lupa. Sebelum mendaftar aku tidak membaca poster secara detail, jadi setelah dinyatakan lolos seleksi, aku baru tahu kalo ternyata TnT perdananya tanggal 29-31 Januari 2016. Galau mau lanjut atau enggak, soalnya masih dalam masa liburan di Surabaya, masih pingin lama di rumah, masih kurang puas ngerasain masakaan ibuk, masih kurang puas berantem sama mbak di rumah, dan bahkan belum ketemu temen-temen lain. Tapi bismillah hasrat turut ambil bagian dan mengabdi lebih kuat dari itu semua.
Surabaya, 28 Januari 2016
Berpamitan adalah hal sakral dalam hidupku. Aku memaknai berpamitan sebagai bentuk keikhlasan dan kepercayaan antara yang meninggalkan dan ditinggalkan. Dan sudah menjadi tradisi setiap kali ada sesi berpamitan, air mata tak pernah bisa ku halau untuk tidak turun. "Selamat tinggal, Surabaya. sampai jumpa pada kepulanganku berikutnya, kejutan apa lagi yang akan kau beri?", pikirku saat kereta yang aku tumpangi berlalu pergi. Memangkas waktu bersama keluarga dan orang yang kita sayang emang bukan hal mudah, tapi jika niatnya baik pasti kedepannya juga bakal baik. Aku percaya itu.
Solo, 29 Januari 2016
07.00
Jumat, akhirnya hari bersejarah itu datang juga. Sebelum keberangkatan, pagi harinya aku mondar mandir kesana kemari menyiapkan perlengkapan pribadi, kebetulan dalam pembagian tugas mengajar kelas 3 aku bertanggung jawab membuat co-Card dan materi peraga pengenalan buah-buah, tema kelas 3 sendiri yaitu Alam dan Pengukuran. Mendekati waktu keberangkatan aku dilanda perasaan cemas yang sangat tidak biasa, hingga jari tanganku bergetar dan susah dihentikan. Perasaan cemas itu muncul lantaran aku sama sekali tidak ada pengalaman dalam pendidikan, mengajar di depan kelas, sedangkan setelah kuamati lewat obrolan grup, rata-rata para volunteer yang lolos pernah mengukuti TnT 1000 guru atau mereka memilik basic dalam hal pendidikan. Jika mungkin ini terlihat berlebihan, silahkan tanya teman kos ku Winda, dia heran mendapati raut muka ku yang tegang setengah mati tidak seperti biasanya. Disaat-saat seperti itu selalu muncul ajakan setan untuk berhenti dan tidak melanjutkan lagi, tapi hati dan pikiranku masih bisa berpikir jernih, jika aku mundur, pengorbananku meninggalkan rumah dan memangkas waktu liburan itu sia-sia.
15.30
Meeting Point TnT 1000 guru Solo adalah pukul 16.00 WIB di Keraton Kasunanan Surakarta. Berangkat bermodal niat dan bismillah disaksikan oleh hujan yang sedikit meredam kecemasanku. Sesampainya di tempat pertemuan, aku berkenalan satu per satu, dalam perkenalan tersebut ku jumpai wajah-wajah yang benar-benar baru, tak pernah bertemu sebelumnya. Berbeda dengan volunteer Event Solo yang selalu bertemu dengan orang-orang sama.
17.00
Setelah semua tim dan Volunteer lengkap, kami berangkat. Disang (Red : truk TNI) adalah transportasi yang mengantarkan kami ke Desa Musuk, Kab. Boyolali, tujuan kami. Naik disang mengingatkan ku pada kegiatan pramuka bertahun-tahun silam, bersama orang-orang hebat yang saling menguatkan satu sama lain. Perjalan kami tempuh selama 2 jam lebih. Medan yang kami lalui tidak gampang tapi juga tidak sulit, jalannya hanya setapak, cukup menanjak, dan gelap. Perjalanan kita sempat terhenti karena terdapat gundukan pasir di pinggir jalan. Volunteer laki-laki dengan sigap turun untuk melihat kondisi jalan dan memastikan bisa maju atau tidak. "Yang dibelakang, pegangan ya" teriak pak Supir. Rasa kantuk seketika hilang dan berubah menjadi tegang. Alhamdulillah, disang kami berhasil melewati gundukan pasir. Tapi tak berselang lama, kami menjumpai ada mobil di depan kami, karena jalan hanya muat satu mobil, akhirnya sang pengendara mobil mengalah, ia berjalan mundur dan mempersilahkan kami jalan terlebih dahulu.
Medan yang kami lalu untuk menuju Desa Musuk, Boyolali.
Boyolali 20.00
Hawa dingin mulai menyelimuti. Sambutan masyarakat desa Musuk seolah menghangatkan suasana malam itu. Kami dari 1000 guru Solo telah disiapkan sebuah rumah yang jarang ditinggali tapi masih terawat sebagai sarana kami selama disini. Malam itu kami habiskan dengan pengenalan dengan Ketua RT dan Ketua Lurah. Ketua lurahnya disini muda banget dan orangnya lucu. Kata pak Lurah, sebagian besar mata pencaharian warga disini adalah petani dan berkebun mawar. Itu terlihat dari setiap halaman rumah warga selalu ada bunga mawar. Selanjutnya kami para volunteer di briefing tentang teknis mengajar besok, mulai dari ice breaking hingga pengenalan pohon impan. Suasana malam menjadi lebih manis dari malam-malam sebelumnya.
Boyolali, 30 Januari 2016
05.00
Pagiku lebih dingin dari biasanya, aku bangun dan bergegas melaksanakan sholat subuh bersama teman-teman lainnya. Hari ini aku akan bertemu patriot-patriot hebat, aku siap mendengar mimpi-mimpi dan khayalan mereka. Sebelum berangkat menuju SD, kami berdoa dan di briefing, satu kalimat dari salah satu Tim yang aku ingat adalah "Anak-anak disini sangat mencintai sekolahnya, walaupun sekolah mereka apa adanya, mereka selalu datang pagi untuk menyapu sekolahnya tanpa ada yang menyuruh" - Mas Is. Mendengar perkataan itu, hatiku tersentuh. Rasanya sungguh tak sabar bertemu dengan mereka.
Perjalan kami menuju ke SDN 3 Kembangsari cukup mudah hanya berjalan ke atas sekitar 15 menit dari rumah singgah kami. Saat kami datang, semua murid keluar kelas dan menyaksikan kami satu per satu. Aku mengamati keadaan sekolah, dan ternyata memang ada beberapa kelas yang atapnya rusak terkena angin puting beliung, oleh sebab itu TnT kali ini bernama "Atap untuk Kami". Melihat keadaan sekolah dan senyuman adik-adik SDN 3 Kembangsari sangat bertolak belakang. Ribuan tanya di meyerang logika, bagaimana bisa mereka sebahagia ini dengan keaadan seperti yang aku lihat saat ini? Satu pelajaran pertama untuk diriku, bersyukur. Apapun yang kita punya saat ini itu yang harus kita syukuri.
Sebagai permulaan, seluruh tim dan volunteer mengajak adik-adik semua Ice Breaking, agar mereka tidak kaget dengan kehadiran kita. Melihat tawa lepas mereka sama halnya mendapati embun di pagi hari, menyejukkan. Antusias adik-adik dan para Volunteer 1000 guru begitu luar biasa.
Selanjutnya, kami volunteer mulai mengajar di kelas masing-masing. Aku kebagian mengajar kelas 3 bersama kak Hesti (Mahasiswa FKG), Kak Rahmat (Aktivis dan traveller), Kak Alif (Mahasiswa Fisika), dan kak Viska (Guru SMP). Sebelum kami berlima masuk, adik-adik sudah di depan pintu, menerka siapa yang akan mengajari mereka, aku geli melihat tingkah mereka, mengingatkan pada masa kecilku dulu. hehehe. Saat kami memasuki kelas mereka langsung duduk di kursi masing-masing tanpa kami komando. Kami mulai perkenalan, mereka mulai bercerita tentang apa kegemaran mereka dan cita-cita mereka. Kelas tiga dengan 12 murid, memiliki cita-cita yang kompak, sebagian polisi, sebagian tentara, dan tiga siswa putri memlih menjadi guru semua. Dalam hati ku aminkan semua apa yang menjadi keinginan mereka, semoga semesta turut mengaminkannya.
Proses belajar yang kami terapkan yaitu fun learning, semua berbentuk permainan, dan ada reward bagi meraka yang berani unjuk gigi. Aku turut menyumbangkan komik karya ku sendiri sebagai rewardnya. Rasanya sangat membahagiakan, jika karya kita bermanfaat untuk orang lain dan dapat menghibur mereka. Dipenghujung proses belajar, ada sesi penempelan pohon impian. Pohon impian adalah saksi bahwa mimpi itu milik siapa saja, dan biarkan ia tumbuh seriring berjalannya waktu. Daun yang berguguran, nantinya akan diganti dengan buah siap panen.
Setelah proses belajar selesai, kami kembali ke lapangan untuk bermain lagi, dan memberi motivasi adik-adik. Dalam sesi ini setiap kakak Volunteer menggandeng dua anak. Aku kebetulan menggandeng Aris dan Gandhi dari siswa kelas tiga. Aku membekali mereka tentang kuatnya mimpi dan bagaiamana cara meraihnya. Di sela-sela itu, dik Gandhi bertanya, "Kak besok senin kesini lagi?". Mendengar pertanyaan polos itu air mata ku paksa untuk tidak keluar, karena aku tak mau terlihat sedih di mata mereka. Dan jujur aku tidak punya jawaban. Aku memutar otak, agar menemukan jawaban yang dapat diterima mereka. "Hehehe, kakak cuma hari ini aja ada disini, kakak juga masih sekolah, Kakak juga punya cita-cita sama seperti Gandhi dan Aris yang harus di raih,tapi kalian bisa kok main ke rumah kakak-kakak ini, main ke rumah kak Deby nanti aku ajak ke kebun binatang, belajar tentang hewan-hewan kayak di kelas tadi, oke? Besok pasti ketemu lagi". Kepolosan mereka mampu meruntuhkan perasaan.
Di puncak acara adalah pemberian donasi dari 1000 guru solo kepada pihak sekolah. Ditutup dengan penampilan murid-murid perempuan menari jaranan di tengah lapangan. Dibawah langit mendung mereka melenggak-lenggok menghibur kami semua.
Kami kembali dan beristirahat. Sayang cuaca saat itu hujan. Jadwal Games antar tim dan Volunteer ditiadakan.
Jalanan Menuju Sekolah SDN Kembangsari 3
Potret bangunan sekolah, atap kelas hilang akibat bencana puting beliung
Aris dan Gandhi, Aris ingin menjadi polisi, Gandhi menjadi Tentara
20.00
Malam harinya adalah sesi sharing. Dalam sharing kali ini, aku bertemu orang-orang baru yang sangat inspiratif. Cerita mereka membuat aku merasa masih Nol belum ada apa-apanya. 25 Volunteer yang tergabung dalam TnT perdana adalah orang-orang luar biasa, diatas rata-rata. Beberapa kalimat bijak dari mereka yang masih melekat dalam ingatan hingga hari ini. Gaya bahasa sedikit aku ubah, kuambil garis besarnya saja.
"Kalo ditanya kenapa mau ikutan kayak gini, gimana ya jawabnya. Ini itu sudah panggilan hati, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata", Mbak berkerudung aku lupa namanya.
"Tadi waktu ngajar kelas 4 , ada anak dia kurang senyum. Saya agak gimana gitu kalo ada orang kurang senyum. Saya coba dekati anak itu. Selesai mengajar saat kita membuat lingkaran, anak itu mencari saya,dia bilang "kak, sama aku ya". Mendengar itu rasanya terharu, berarti saya berhasil". Mas Irfan, Mahasiswa keperawatan dari Solo
"Peduli pendidikan jangan cuma nunggu acara kayak gini. Mulai dari hal kecil di lingkungan kita. Kita semua disini pasti ada tetangga kan, anak-anak itu kita rangkul, bukan hanya kita salahkan". Mas Alif, Mahasiswa Fisika dari Solo
"Anak muda jaman sekarang udah gak jaman berkomentar cuma urun angan, saatnya ikut turun tangan dan memperbaiki yang benar". Mas Randy, Relawan dari Solo
"Yang aku tahu, jaman sekarang kalo mau protes bukan lewat demo-demo. Demo capek-capek juga tidak didengar. seperti orde baru, kita demo bbm tetap saja naik. Jaman sekarang kalo mau protes itu ikut andil dalam kegiatan seperti ini, tujukkan bahwa kita benar-benar peduli". Mas Rahmat, Aktivis dan Traveller dari solo asli sumatra.
"Walaupun mereka tinggal di pelosok, tapi pemikiran dan kecerdasan mereka tak kalah dengan anak-anak kota". Mbak Pipt tentor dari Magelang.
"Saat aku tanya salah satu diantara mereka, apa cita-citamu? anak itu menjawab aku ingin menjadi supir truk. Aku bertanya lagi karena heran. Mengapa? Aku ingin membagikan makanan ke seluruh Indonesia, biar semua penduduk Indonesia bisa makan. Aku terdiam seketika". Mas Petta, Seorang Wasit dari Solo
"Disini kita yang belajar, bukan yang mengajar, mereka begitu menginspirasi". Bu Ria, Guru, Penulis buku, Aktivis dari Solo.
"Aku kangen suasana seperti ini, mangkannya aku antusias banget buat ikutan. Masa-masa seperti inilah yang akan kita kenang nantinya." Mas Bayu, PNS dari Bontang, Kalimantan.
"Aku gak terkenal, dan aku gak pengen terkenal. Aku pengen virusku ini menular ke banyak orang". Rasta, Ketua Regional 1000 Guru Solo.
Malam yang luar biasa. Tak pernah ku bayangkan sebelumnya, aku duduk diantara orang-orang hebat yang kisah dan perkataannya sangat menginspirasi. Kami sama-sama tahu, malam itu adalah malam terakhir kita, diantara kami memutuskan untuk tetap terjaga, agar moment ini tidak segera berakhir.
Boyolali, 31 Januari 2016
Hari terakhir kami di Desa Musuk. Jadwal yang tertulis adalah pengobatan Gratis dan Traveling ke Umbul Ponggok Klaten. Berat jika harus beranjak meninggalkan Desa Musuk beserta kenangan di dalamnya. Tiga hari dua malam yang benar-benar berarti bagiku. Aku merasa beruntung ada ditengah-tengah orang hebat.
Aku hidup atas nama takdir.
Tapi kehidupan, tak pernah jauh dari pilihan.
Setiap pilihan, mengantarku pada harapan dan keyakinan baru.
Tak pernah ada pilihan yang salah,
Yang ada hanya kita kurang berani melangkah.
Melampaui batas-batas imaji yang tak terarah.
Atas nama Takdir, ku ucap syukur dan terima kasih,
Kesempatan, pengalaman, dan pertemana yang diluar bayangan.
Semoga semesta, tak pernah bosan menyaksikan,
Insan mulia penuh keyakinan dan kepedulian memperjuangkan masa depan.
Bangun, mari kita kaitkan tali sepatu kita,
Mari melangkah bersama.
Mengejar asa yang sempat tertunda.
Jangan takut melangkah,
Jangan takut akan sendirian,
Pilihan hidup kita tak seseram itu.
Terima kasih Tim dan seluruh Volunteer 1000 guru Solo. Tulisan ini muncul berkat perjumpaan singkat kita. Semoga kelak ku dapati kalian semua, memeluk mimpi-mimpi kalian.
Para penggerak perabadan. Kepedulian mereka, harapan bangsa.
Solo, 4 Februari 2016
Ditulis tanpa praduga.
Dengan perasaan bahagia.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar