Tak
Cukup Obama
Matahari
beranjak ke peraduaannya, hari mulai gelap kereta ekonomi Matarmaja telah tiba
di stasiun Pasarsenen setelah melakukan perjalanan panjang dari kota Malang.
Aku turun dengan barang bawaanku dan bergeges menuju pintu keluar. Diluar stasiun,
aku disuguhkan dengan pemandangan yang sering aku jumpai saat naik kereta
seperti ini. Orang-orang berlalu lalang menawarkan jasa mereka. Jasa ojek,
becak, angkot atau taxi. Ada pula yang menawarkan diri untuk membawakan barang
bawaan. “Mas becak mas, buk Taxi buk, mau kemana mas? Ojek pak murah”. Suara
mereka saling beradu satu sama lain, membuat bising tapi cukup berirama. Aku menolak
pelan ketika ada yang menawariku. “Sungguh hebat orang-orang ini, dari pagi
hingga pagi lagi tak pernah lelah dan berhenti menawarkan walau banyak yang
menolak, tuntuan hidup di Jakarta”. Pikirku dalam hati. Aku berjalan menuju ke
utara dan menoleh kanan kiri mencari sosok lelaki paruh baya yang menjemputku.
“Don”, teriak seorang lelaki dari ujung jalan. Aku segera menoleh ke sumber
suara itu. Diujung sana kulihat sosok lelaki berbadan gemuk dan sebuah senyum
yang mengembang manis di wajahnya. Dialah pakde Jarwo. Pakdeku yang tinggal di
Jakarta, kampung rambutan tepatnya. Dan akan ku tumpangi rumahnya hingga masa
berkelanaku usai.
***
Dua
minggu sudah Bima menjadi pengamen cilik. Sore hari sepulang sekolah Ia menuju
perempatan Menteng untuk menukarkan suara paraunya dengan kepingan rupiah.
Tidak hanya Bima, teman seumuranya pun banyak yang melakukan kegiatan serupa.
Berbeda dengan teman-temannya, Bima mengamen bukan karena ingin menambah uang
jajan atau untuk keperluaan sekolah, tapi semata-mata untuk bapaknya. Sudah berhari-hari
bapaknya tidak menarik becak, terbaring lemah karena penyakit asma yang hinggap
di tubuhnya. Kata dokter puskesmas harus segara dilakukan operasi kecil agar
tidak bertambah parah dan merambat ke paru-paru. Bima tak bisa tinggal diam
melihat bapaknya seperti itu. Maka diputuskannya untuk mengamen, meraup rupiah
demi rupiah untuk kesembuhan bapak. Sejak kecil Bima hidup berdua dengan
bapaknya. Bapaknya adalah semangatnya. Ibunya meninggal saat ia masih belia
karena tumor yang menggerogoti rahimnya. Bima tak mau kehilangan orang yang ia
cintai untuk kedua kalinya. Selama ini biaya hidup keluarganya bergantung pada
uang pensiunan dan ongkos menarik becak bapaknya. Hanya cukup untuk keperluaan
sehari-hari. Untuk urusan sekolah ada sedikit kelegaan. Dari kelas 1 hingga
kelas 5 sekarang ini nilai Bima selalu stabil bahkan naik disetiap tahunnya.
Melihat prestasi dan latar belakang Bima, pihak sekolah memberikan beasiswa
hingga Ia lulus SD. Walaupun hidup di Jakarta serba susah, Bima selalu
mensyukuri hidupnya. Seperti yang nasehat bapaknya “Nak, hidup ini cuma sekali.
Kalo diisi dengan mengeluh, mengeluh dan mengeluh kapan kita bisa melihat
indahnya hidup? Bersyukurlah selagi kita mampu”. Singkat, dan selalu menjadi
pijakan Bima untuk terus berjuang di Jakarta.
“Bim,
sudah mau maghrib. kita pulang duluan yaa….” Pamit salah satu temannya.
“Iya
Yu, hati-hati yaaa….”. Sahut Bima bersahabat.
Ia
kembali menghitung recehan yang didapat hari ini. “Alhamdulillah, semoga besok
bisa lebih”. Ucap Bima dalam hati.
“Gimana
Bim, dapet banyak hari ini?” Tanya Asep teman sekampungnya yang berprofesi
sama.
“Yaa
alhamdullilah Sep, kamu sendiri gimana?” Timpal Bima.
“Gak
seberapa Bim, hari ini orang-orang pada gak bersahabat jadi dapetnya dikit”.
Keluh Asep.
“Sedikit
banyak mesti disyukuri Sep, Rejeki udah ada yang ngatur, Percaya itu”. Kata
Bima mengingatkan.
“Aku
tau Bim, tapi kapan yaa kita hidup enak? Kapan yaa kita didengar? Mungkin nanti
kali ya kalo semua koruptor pada lari ke luar negeri baru kita di dengar.
Hahaaha.” Gerutu Asep diselingi canda.
"hahaha.
Jangan ngeluh ah. Kalo orang-orang kecil seperti kita mengeluh semua, bagaimana
jadinya Jakarta? Kasian kan kalo Indonesia dicap negera dengan penduduk yang
hobi mengeluh nomer wahid. Cukup mereka saja yang mengeluh. Kita jangan. Kasian
kan pak presidennya kalo kita ikut ngeluh bebannya nambah lagi". Ujar Bima
seperti orang dewasa.
“Iya
Bim kamu bener. Eh ngomong-ngomong gimana kabar bapakmu?” Tanya Asep.
“Nggak
ada tanda tanda membaik Sep. Obat dari puskesmas juga mulai habis. Aku harus
lebih keras sekarang. Demi kesembuhan bapak”. Ucap Bima memelas.
“Kamu
yang sabar yaaaa Bim, tetep berdoa. Kamu boleh kok pinjem uangku kalo kamu
bener-bener butuh”. Kata Asep menenangkan Bima.
“Iya
Sep. Makasih. Aku minta doanya yaaa, doakan biar bapakku cepet sembuh, biar
bisa narik becak lagi”. Ujar Bima penuh harap.
“Pasti
itu Bim. Yuk sekarang kita pulang kasihan bapak kamu sendiri di rumah”. Ujar
Asep lagi.
Bima
membalasnya dengan anggukan kepala. Mereka berjalan melewati ribuan mobil yang
hilir mudik di sekitar Menteng. Memasuki gang-gang kecil. Menyusuri jalanan
kampung yang mulai gelap. Hingga dipertigaan jalan kampung mereka berpisah.
Bima
berjalan sendirian,ia teringat bapaknya. Teringat penyakit asma yang diderita
bapaknya. Bima ingin segera membawa bapaknya ke rumah sakit, namun biaya belum
mendukung. Dalam keadaan kalut seperti itu, banyak sekali ide-ide konyol yang
terlintas di benak Bima untuk mendapat uang banyak. Salah satunya yaitu menjual
ginjal. Ia pernah membaca di koran ada anak yang menjual ginjalnya untuk menaik
hajikan emaknya, dan itu berhasil. Bentuk baktinya kepada orang tua. Bima ingin
meniru hal serupa. Menjual salah satu ginjalnya untuk biaya berobat bapaknya
dan bapaknya akan sembuh. Misi baru. Semagat Bima semakin berkobar. Kesempatan
bapaknya untuk sembuh semakin besar “Semoga misi ini berhasil”. Harap Bima
dalam hati. Bima tak pernah tau apa resikonya. Ia hanya tau bahwa setiap orang
punya ginjal dan jika dijual harganya mahal. Bima mempercepat langkahnya agar
cepat sampai dirumah, dan merawat bapaknya lagi.
***
Hari
ini hari ketiga aku di Jakarta. Setelah melihat monas dan mengunjungi beberapa
tempat bersejarah di Jakarta, hari ini aku ingin berkunjung ke Menteng. Tempat
yang disebut-sebut pernah disinggahi Presiden USA. Barack Obama. Sebagai
seorang yang hobi traveling sepertiku selalu tertantang untuk berkunjung ke
tempat-tempat seperti itu. Tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan
orang-orang terdahulu.
Kata
pakde Jarwo dari kampung rambutan ke Menteng bisa ditempuh dengan menggunakan
angkot atau bus. Aku memilih naik angkot saja, kerena dari kemarin aku selalu
naik bus kota atau trans Jakarta. Ingin ganti suasana. Aku diantar pakde Jarwo
ke pangkalan angkot karena letaknya searah dengan tempat kerja pakde.
Lumayanlah, batinku.
Di
pangkalan angkot, aku mencari angkot M56. Aku mondar mandir dan akhirnya ketemu. Sebelum masuk, aku
memastikan lagi kepada pak sopir. “menteng pak?” tanyaku. “Iya mas” jawabnya.
Di dalam angkot sudah ada 8 penumpang. Aku duduk di pojok. Sambil menunggu
angkot penuh aku melihat sekelilingku. Aku melihat pak sopir yang sedang
menghisap rokok ktretek tang tinggal separuh. Lalu sang kernet yang berteriak
“Menteng Menteng”. Dan segala rupa dan tingkah laku penumpang. Semua sibuk
dengan aktivitasnya. Tak ada percakapan di dalam angkot ini. Tak ada pula senyum sapaan. Seperti mimbisu. “Jakarta, pelan tapi pasti mengubah pribadi
seseorang menjadi sangat individualis”. Pikiran negatifku tentang Jakarta
muncul. Namun cepat cepat ku tepis. Sepuluh menit berlalu, angkot mulai penuh.
“Ayo bang, berangkat sudah penuh”. Kata kernet mengingatkan. Tanpa menunggu lagi,
angkot berangkat. Berjalan meninggalkan pangkalan. Menerobos kemacetan.
Jam
tanganku menunjukkan pukul 11 siang, dan angkot berhenti. Beberapa penumpang
turun. Namun aku masih diam hingga pak sopir memberitahu bahwa ini sudah tiba
di menteng. Aku kemudian beranjak turun dan tak lupa membayar.
Aku
berjalan tanpa arah, tapi bertujuan. Mengenal kampung kecil Obama.Ya. itu
tujuanku. Setiap jalan yang kulalui selalu kuamati. Aku bertanya dari rumah A
ke rumah B untuk mencari tahu dimana tepatnya presiden kulit hitam itu tinggal.
Setelah lama mencari akhirnya ketemu. Jalan Haji Ramli No 16 RT11/15, Menteng
Dalam. “Obama pernah tinggal disin dulu”. Celutuk seorang warga yang menjadi
tour guideku mencari rumah obama. Setelah berbincang-bincang cukup lama aku
pamit undur diri. Langit sore mulai menampakkan diri, ku lanjutkan lagi
perjalananku. “Menteng, Jakarta, tak kusangka presiden dari negeri super power
itu pernah tinggal disini di menteng dalam yang sempit.” Gumamku dalam hati.
Lelah
mulai menghampiri. Aku ingin merebah lelah sebentar di taman menteng. Jaraknya
cukup lumayan dari menteng dalam. Tak sampai satu jam aku telah tiba di taman
menteng. Aku mencari posisi yang nyaman untuk aku duduki. Ketemu. Aku duduk di
dekat perempatan di bawah pepohonan yang rimbun. Dari sini aku dapat melihat
aktivitas di perempatan menteng. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan seorang anak
kecil yang berdiri diatas trotoar sambil mengalungkan sebuah tulisan “Butuh
uang cepat, Bapak saya sakit. Ginjal saya jual”. Aku mengamatinya lama. Rasa penasaranku tak tertahan lagi. Aku
bergegas menuju trotoar tempat anak kecil itu berdiri. Ketika aku mendekat,
anak itu menatapku lama. Dan ia menawariku ginjalnya.
“Butuh
ginjal bang? Ini saya jual. Lagi butuh duit cepet nih”. Kata anak kecil itu
lantang.
Aku
tidak langsung menjawab. Lalu aku tersenyum ramah.
“Namanya
siapa dek?” tanyaku.
“Bima
bang.” Jawabnya singkat.
Aku
menjulurkan tanganku dan menyebut namaku “Doni”.
“Boleh
abang bicara sama kamu, jangan takut abang gak jahat kok” Rayuku.
Bima
menganguk. Lalu aku mengajaknya duduk ditempatku tadi. Disana aku meminta Bima
bercerita apa yang sedang terjadi hingga dia melakukan hal konyol ini. Dia
bercerita panjang lebar tentang sakit yang di derita bapaknya. Tentang
kehidupannya. Tentang sekolahnya. Segalanya ia ceritakan kepadaku. Seolah-olah
aku ini kakaknya.
“Dari
kecil aku tinggal sama bapak bang, Ibuk sudah lama pergi”. Bima mulai
bercerita.
“Bapak
saya pensiunan PNS . sekarang cuma narik becak. Hidup kami tergantung pada uang
pensiunan yang nggak seberapa dan ongkos menarik becak. Cukup untuk biaya
sehari-hari. Sekarang bapak sakit. Butuh uang Makanya saya ngamen bang”.
Lanjutnya.
“Sudah
lama ngamen?’ tanyaku.
“Baru
dua minggu bang, sebelum bapak kena asma saya yaa nggak ngamen. Saya ngamen
untuk biaya operasi kecil bapak. Dan ini (sambil melihat tulisan yang ia
gantung dilehernya) misi baru saya bang. Saya pengen cepet-cepet bawa bapak
berobat. Uang mengamen nggak cukup bang.” Jawabnya.
“Kenapa
harus ginjal?’ tanyaku lagi.
“Dua
hari lalu saya baca koran bang, disitu ada berita yang isinya ada seorang anak
yang menjual satu ginjalnya untuk menaikkan haji emaknya. Tanpa waktu yang
lama. Emaknya bisa berangkat haji. Saya meniru itu bang. Siapa tahu bernasip
baik” Jelas Bima.
“Memang,
sudah menjadi kodratnya, harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di
Jakarta”. Timpalku.
"Hidup
di Jakarta memang keras bang, tapi saya tak pernah membenci Jakarta. Karena
saya lahir di Jakarta bang, tanah yang saya injak pertama kali yaaa tanah
Jakarta ini, orang boleh bilang apa saja tentang jakarta tapi saya selalu
bangga dengan Jakarta" Jelas Bima dengan lantangnya.
Aku
hanya tersenyum mendengar penjelasan Bima. “Anak ini, masih SD tapi
perjuangannya, semangatnya, caranya hidup menghadapi keganasan Jakarta membuat
ia lebih dewasa dari anak seusianya. Hebat !! ”. Pikirku dalam hati.
“Bang
kok bengong?” Suara Bima membangunkan lamunanku.
“Eh
iya. Hahaha. Oyaaa tentang sekolah kamu gimana?. Tanyaku.
Bima
diam sejenak tak langsung menjawab. Ia menatapku lama lalu tersenyum. “Untuk
urusan sekolah bisa dibilang lumayan bang, karena prestasi dan keadaan
ekonomiku pihak sekolah memberiku beasiswa hingga aku lulus SD nanti. Walaupun
saya ngamen. Sekolah tetep jadi yang utama bang. Saya pengen sekolah tinggi
tapi gak mau keluar negeri.” Ujarnya.
Alisku
mengerut mendengar ungkapan Bima. “Loh kok aneh? Kebanyakan anak sekarang kan
pengen keluar negeri? Jangan bilang karena ekonomi keluarga susah jadi takut ke
luar negeri”. Cetusku.
“hahaha.
Ya enggaklah bang. Kata bapak ketika kita punya mimpi, jangan sesekali melihat
siapa kita sekarang, bagaimana keadaan kita sekarang tapi lihat apa yang kita
perbuat sekarang. Itu yang menentukan. Jadi walaupun sekarang saya susah saya
gak takut bermimpi. Saya gak mau keluar negeri bang, disini aja cukup. Sayang
kalo ninggalin Jakarta, ninggalin Indonesia. Banyak alasan untuk tetap disini.
Pendidikan di Indonesia memang kurang bagus, tapi itu kembali ke diri kita
sendiri, bagaimana mensiasatinya begitulah kata guru saya bang. Ungkap Bima
“hhhmm
emang Bima pengen jadi apa?” Lagi- lagi aku bertanya.
Tanpa
berpikir lagi, Bima menjawab. “Saya pengen jadi presiden kayak Pak SBY bang. Pengen nerusin perjuangan Pak
SBY menata Indonesia. Heheheee”. Aku tersenyum dan tak bertanya lagi.
Di
taman menteng ini, di bawah pohon nan rimbun ini Bima bercerita kisah dam
mimpinya kesana-kemari. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya. Tak
tererasa matahari mulai pergi. Siang yang terik akan menjadi gelap kerena
malam.
“Sudah
mau maghrib bang, Saya harus pulang ngerawat bapak lagi.” Pamit Bima penuh
makna.
“Iya
nih, mulai gelap. Salam yaa buat bapak kamu”. Balasku singkat,
“Oke
baaaang. Makasih ya bang mau ndengerin ceitaku. Padahal kita baru kenal. Besok
abang mau nggak main kesini lagi?”. Ucap Bima penuh harap.
“Boleh
tapi semua inigak gratis looo, ada syaratnya.” Candaku.
“Apa
syaratnya bang?” Tanya Bima keheranan.
“Besok
kalo kesini lagi jangan bawa tulisan yang kamu kalungin itu yaaaaa”. Kataku
tegas.
“Kenapa
bang? Nanti saya dapet uang darimana?” tanyanya lagi.
“Besok
abang kasih tau caranya. Sekarang Bima pulang dulu”. Bujukkku padanya.
Terlihat
jelas di raut mukanya kalau ia bingung. Tersirat bahwa Bima ingin memperpanjang
percakapannya denganku. Namun disisi lain ia tak bisa lama-lama lagi, bapaknya
pasti menantinya di rumah. Maka ia beranjak pulang. Akupun demikian.
***
Aku
duduk di taman belakang rumah Pakde Jarwo, menikmati sinar rembulan yang
mematung diangkasa. Ditemani secangkir tehbuatanku sendiri. Aku melamun,
pikiranku kembali pada kejadian di Taman Menteng siang tadi. Sosok anak
laki-laki dengan dandanan kumal dan senyum yang selalu merekah di wajahnya
memenuhi otakku. Sosok Bima.. Dari tadi aku memutar otak. Mencari titik terang
untuk membantu Bima. Namun suram, aku kehabisan akal.
“Ngelamun
apa kamu Don?” suara pakde Jarwo yang telah duduk di sampingku.
“eh
Pakde. Aku mikirin kejadian tadi siang di Taman Menteng”. Jawabku.
“Taman
Menteng? ada kejadian apa?” Tanya pakde penasaran.
Aku
menceritakan semuanya tentang Bima, Tak kurang dan tak lebih. Aku bercerita apa
adanya. Pakde sangat antusias mendengar ceritaku. Aku juga bercerita bahwa aku
telah berjanji pada Bima memberithunya cara cepat mendapat uang selain misi
konyolnya itu.
“Pakde
punya usul Don, kamu adain aja pertunjukkan
jalanan. Kamu kan jago dance. Ajak Bima dan temen-temennya. Pasti akan menarik
perhatian, banyak yang datang dan banyak juga yang nyemplungin recehan. Tapi
gak cukup sehari, paling nggak lima hari bisa ngumpul banyak. Kamu juga kan
disini masih lama” Jelas pakde panjang lebar.
Aku
tak menjawab hanya tersenyum, memangut-mangut tanda setuju. Ide pakde Jarwo ini
membuatku lega. “ Akhirnya, Semoga berhasil”. Harapku dalam hati.
***
Esok
harinya aku menepati janjiku. Aku datang lagi ke Taman Menteng. Aku duduk
ditempat yang sama, menunggu Bima. Lima menit Sepuluh menit tak kelihatan
batang hidungnya. Baru setengah jam kemudian Ia datang. Dan sesuai
permintaanku, Bima tak lagi mengalungkan misi konyolnya. Tanpa basa basi aku
langsung menceritakan pada Bima sebuah misi baru yang lebih masuk akal
tentunya. Senyuman bangga tampak diwajah Bima ketika mendengar aku berdalih Mungkin
baginya aku seperti pak SBY sedang berpidato. Pada hari itu juga aku dan Bima
menyusun strategi agar misi kita berjalan baik. Ya, misi kita. Aku dan anak
Jakarta ini.
“oyaaa
bang, kenapa Bima gak boleh jual ginjal. Kan ada dua ginjal?” Tanya Bima
tiba-tiba.
Aku
tak langsung menjawab aku memikirkan kata yang tepat.
“Perlu
Bima tau yaaaa, semua yang dalam diriki kita itu sangat berharga. Termasuk
ginjal. Karena sangat beharganya jadi sayang kalo cuma ditukar dengan lembaran
rupiah. Jadi jangan lagi-lagi punya ide buat jual ginjal”. Kataku bersahabat.
Bima
membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman khasnya. Strategi telah
disusun, sekarang waktunya mengomtimalkan tenaga. Karena besok adalah hari yang
istimewa.
***
Pukul
3 sore. Taman Menteng masih sama seperti hari-hari kemarin. Ramai. Hari ini Taman
menteng akan menjadi saksi bisu pengaplikasian misiku pertama kali. Aku telah
siap dengan segala peralatanku. Di ujung taman aku melihat Bima dan teman-teman
berbondong-bondong menuju ke arahku. Mereka seperti pasukan Diponegoro yang
siap berperang. Sebelum memulai, kami berdoa dulu agar semuanya lancar. Doa selesai. Dan mulai beraksi. Musik diputar
dari tape recorder yang aku pinjam dari pakde Jarwo, tak lupa speakernya. Aku
menjadi patokan, Bima dan teman-temanya menirukan gerakkanku. Cukup energic dan
kompak. Tak sampai satu jam orang-orang telah mengerubungi kami. Seperti
kerumunan semut. Dan mereka mulai melempar recehan mereka ke kotak yang
bertuliskan “untuk bapak” yang telah kami siapkan sebelumnya. Satu jam telah berlalu,
kotak yang kosong telah penuh koin dan kertas yang berlebel rupiah. Sesuai
perjanjian, setiap kali tampil, kami membagi hasil. Bima mendapat 50% dan
50%nya lagi untuk teman-teman Bima. Sengaja dibagi seperti itu, karena memang
tujuannya untuk mermbantu Bima Dan aku menolak ketika aku disuruh ambil bagian
juga, menurutku mereka yang lebih butuh,
apalagi si Bima. Hari pertama diluar dugaanku dan aku sangat bersyukur.Setalah
pembagian hasil, temen-teman Bima pamit
pulang. Tinggal aku dan Bima.
“Nggak
nyangka bang, baru sehari udah dapet segini.” Kata Bima membuka pembicaraan
“Iya
Bim.” Jawabku singkat.
“Semoga
besok juga yaa bang.” Ucap Bima lagi. Aku mengamini dalam hati. Bima cukup puas
dengan hari ini.
***
Tak
terasa hari ini hari terakhir menjalankan misi. Sesuai jadwal, hari ini kami
unjuk diri di sekitaran Monas. Semuanya lancar dan penampilan kami membanggakan.
Kami kembali ke Menteng. Sebelum pulang, aku dan Bima menyempatkan diri
mengobrol di Taman Menteng.
“Utangku
lunas yaaa Bim”. Kataku membuka pembicaraan.
“hahaha
makasih yaaa bang, semua ini berarti banget buat Bima. Hasil uang ngamen dan ongkos
joget-joget ini sudah cukup. Rencananya
besok Bima langsung bawa bapak ke rumah sakit. Dan segera di operasi. Semoga
belum terlambat” ujarnya.
“Yaaa
semoga. Berdoa saja. Allah akan memberikan yang terbaik”. Kataku mengakhiri.
Semenjak
ketemu Bima aku belum sekalipun bersambang ke rumahnya. Tak pernah berjumpa
dengan Bapaknya. Tapi hari ini juga aku
akan mengantar Bima pulang dan melihat keadaa Bapaknya. Sebelum besok aku
pulang. Meninggalkan Jakarta.
***
Pagi
ini cukup cerah. Sinar matahari masih lembut memancarkan kehangatan. Namun ada
perasaan sedih dalam diriku, aku tidak
menemani Bima mengantarkan Bapaknya. Hari ini aku bertolak meninggalkan
Jakarta. Semalam aku telah berpamitan pada Bima dan meminta maaf tak bisa
menemani. Bima kecewa, tapi Ia mau mengerti. Aku sudah bersiap. Pakde Jarwo
mengantarku ke stasiun Pasarsenen. Aku masuk kedalam gerbong, berjalan mencari
tempat duduk sesuai dengan tiket. Aku duduk. Kereta mulai bergerak meninggalkan
pasarsenen. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada telepon masuk, tapi aku tak
mengenali nomernya.
“Halo
bang, ini Bima. Operasinya lancar Bang. Asma yang hinggap di Tubuh bapak sudah
lenyap. Bapak sembuh bang. Bisa narik becak lagi. Semua berkat abang.”. Suara
Bima dari ujung telephone seperti pembalap.
“Alhamdulillah
abang ikut seneng. Bukan berkat abang. Tapi berkat Allah swt. Abang cuma
perantara saja. Sudah ditakdirkan seperti ini.” Jelasku seakan menggurui. Dalam
hatiku aku sangat senang. Tak sia-sia, usahaku bermanfaat untuk orang lain.
“Iya
bang tak luput dari ridho Allah Swt. Kapan-kapan main ke Menteng lagi yaaa, jangan kapok ke Jakarta”. Ujar Bima
dengan gurau.
“Iyaaaa
pas…” Tuuut….tuuuut…. belum selesai aku bicara sudah terputus. Mungkin Bima telpon
dari wartel dan jaringannya terganggu. Pikirku.
Aku
kembali menikmati perjalananku. Gedung – gedung tinggi mulai tak terlihat.
Bersama hembusan angin dari jendela kereta aku mengenang kembali pengembaraanku
selama di Jakarta. Sosok Bima yang mendominasi ingatanku. "aaaah Bima,
Anak sekecil itu mengajariku banyak tentang hiruk pikuknya kehidupan. lewat
kisahnya aku tau bahwa hidup itu tak bisa dilihat dari satu sisi. Dan Bima, walaupun
hidupnya disini jauh dari kata sejahtera, Ia selalu bangga dengan Negeri
sendiri, apalagi Jakarta tanah kelahirannya. Tak cukup Obama, Menteng punya
cerita baru". Kataku dalam hati sambil tersenyum.
Keretaku
mulai memasuki Jawa Barat. Gedung pencakar langit tak terlihat lagi. Kali ini
aku disuguhi hamparan sawah yang luas. Hijau yang menenangkan. Sesekali kulihat
petani yamg melambai kearah kereta. Anak-anak kecil menggiring kambing. Aku tak mampu berkata lagi. Selama aku
berkelana ke banyak kota, baru ini yang paling bermakna. Jakarta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar