Minggu, 14 Agustus 2016

Tak Cukup Obama

Tak Cukup Obama


     Matahari beranjak ke peraduaannya, hari mulai gelap kereta ekonomi Matarmaja telah tiba di stasiun Pasarsenen setelah melakukan perjalanan panjang dari kota Malang. Aku turun dengan barang bawaanku dan bergeges menuju pintu keluar. Diluar stasiun, aku disuguhkan dengan pemandangan yang sering aku jumpai saat naik kereta seperti ini. Orang-orang berlalu lalang menawarkan jasa mereka. Jasa ojek, becak, angkot atau taxi. Ada pula yang menawarkan diri untuk membawakan barang bawaan. “Mas becak mas, buk Taxi buk, mau kemana mas? Ojek pak murah”. Suara mereka saling beradu satu sama lain, membuat bising tapi cukup berirama. Aku menolak pelan ketika ada yang menawariku. “Sungguh hebat orang-orang ini, dari pagi hingga pagi lagi tak pernah lelah dan berhenti menawarkan walau banyak yang menolak, tuntuan hidup di Jakarta”. Pikirku dalam hati. Aku berjalan menuju ke utara dan menoleh kanan kiri mencari sosok lelaki paruh baya yang menjemputku. “Don”, teriak seorang lelaki dari ujung jalan. Aku segera menoleh ke sumber suara itu. Diujung sana kulihat sosok lelaki berbadan gemuk dan sebuah senyum yang mengembang manis di wajahnya. Dialah pakde Jarwo. Pakdeku yang tinggal di Jakarta, kampung rambutan tepatnya. Dan akan ku tumpangi rumahnya hingga masa berkelanaku usai.

***

    Dua minggu sudah Bima menjadi pengamen cilik. Sore hari sepulang sekolah Ia menuju perempatan Menteng untuk menukarkan suara paraunya dengan kepingan rupiah. Tidak hanya Bima, teman seumuranya pun banyak yang melakukan kegiatan serupa. Berbeda dengan teman-temannya, Bima mengamen bukan karena ingin menambah uang jajan atau untuk keperluaan sekolah, tapi semata-mata untuk bapaknya. Sudah berhari-hari bapaknya tidak menarik becak, terbaring lemah karena penyakit asma yang hinggap di tubuhnya. Kata dokter puskesmas harus segara dilakukan operasi kecil agar tidak bertambah parah dan merambat ke paru-paru. Bima tak bisa tinggal diam melihat bapaknya seperti itu. Maka diputuskannya untuk mengamen, meraup rupiah demi rupiah untuk kesembuhan bapak. Sejak kecil Bima hidup berdua dengan bapaknya. Bapaknya adalah semangatnya. Ibunya meninggal saat ia masih belia karena tumor yang menggerogoti rahimnya. Bima tak mau kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya. Selama ini biaya hidup keluarganya bergantung pada uang pensiunan dan ongkos menarik becak bapaknya. Hanya cukup untuk keperluaan sehari-hari. Untuk urusan sekolah ada sedikit kelegaan. Dari kelas 1 hingga kelas 5 sekarang ini nilai Bima selalu stabil bahkan naik disetiap tahunnya. Melihat prestasi dan latar belakang Bima, pihak sekolah memberikan beasiswa hingga Ia lulus SD. Walaupun hidup di Jakarta serba susah, Bima selalu mensyukuri hidupnya. Seperti yang nasehat bapaknya “Nak, hidup ini cuma sekali. Kalo diisi dengan mengeluh, mengeluh dan mengeluh kapan kita bisa melihat indahnya hidup? Bersyukurlah selagi kita mampu”. Singkat, dan selalu menjadi pijakan Bima untuk terus berjuang di Jakarta.
“Bim, sudah mau maghrib. kita pulang duluan yaa….” Pamit salah satu temannya.
“Iya Yu, hati-hati yaaa….”. Sahut Bima bersahabat.
Ia kembali menghitung recehan yang didapat hari ini. “Alhamdulillah, semoga besok bisa lebih”. Ucap Bima dalam hati.
“Gimana Bim, dapet banyak hari ini?” Tanya Asep teman sekampungnya yang berprofesi sama.
“Yaa alhamdullilah Sep, kamu sendiri gimana?” Timpal Bima.
“Gak seberapa Bim, hari ini orang-orang pada gak bersahabat jadi dapetnya dikit”. Keluh Asep.
“Sedikit banyak mesti disyukuri Sep, Rejeki udah ada yang ngatur, Percaya itu”. Kata Bima mengingatkan.
“Aku tau Bim, tapi kapan yaa kita hidup enak? Kapan yaa kita didengar? Mungkin nanti kali ya kalo semua koruptor pada lari ke luar negeri baru kita di dengar. Hahaaha.” Gerutu Asep diselingi canda.
"hahaha. Jangan ngeluh ah. Kalo orang-orang kecil seperti kita mengeluh semua, bagaimana jadinya Jakarta? Kasian kan kalo Indonesia dicap negera dengan penduduk yang hobi mengeluh nomer wahid. Cukup mereka saja yang mengeluh. Kita jangan. Kasian kan pak presidennya kalo kita ikut ngeluh bebannya nambah lagi". Ujar Bima seperti orang dewasa.
“Iya Bim kamu bener. Eh ngomong-ngomong gimana kabar bapakmu?” Tanya Asep.
“Nggak ada tanda tanda membaik Sep. Obat dari puskesmas juga mulai habis. Aku harus lebih keras sekarang. Demi kesembuhan bapak”. Ucap Bima memelas.
“Kamu yang sabar yaaaa Bim, tetep berdoa. Kamu boleh kok pinjem uangku kalo kamu bener-bener butuh”. Kata Asep menenangkan Bima.
“Iya Sep. Makasih. Aku minta doanya yaaa, doakan biar bapakku cepet sembuh, biar bisa narik becak lagi”. Ujar Bima penuh harap.
“Pasti itu Bim. Yuk sekarang kita pulang kasihan bapak kamu sendiri di rumah”. Ujar Asep lagi.
Bima membalasnya dengan anggukan kepala. Mereka berjalan melewati ribuan mobil yang hilir mudik di sekitar Menteng. Memasuki gang-gang kecil. Menyusuri jalanan kampung yang mulai gelap. Hingga dipertigaan jalan kampung mereka berpisah.
     Bima berjalan sendirian,ia teringat bapaknya. Teringat penyakit asma yang diderita bapaknya. Bima ingin segera membawa bapaknya ke rumah sakit, namun biaya belum mendukung. Dalam keadaan kalut seperti itu, banyak sekali ide-ide konyol yang terlintas di benak Bima untuk mendapat uang banyak. Salah satunya yaitu menjual ginjal. Ia pernah membaca di koran ada anak yang menjual ginjalnya untuk menaik hajikan emaknya, dan itu berhasil. Bentuk baktinya kepada orang tua. Bima ingin meniru hal serupa. Menjual salah satu ginjalnya untuk biaya berobat bapaknya dan bapaknya akan sembuh. Misi baru. Semagat Bima semakin berkobar. Kesempatan bapaknya untuk sembuh semakin besar “Semoga misi ini berhasil”. Harap Bima dalam hati. Bima tak pernah tau apa resikonya. Ia hanya tau bahwa setiap orang punya ginjal dan jika dijual harganya mahal. Bima mempercepat langkahnya agar cepat sampai dirumah, dan merawat bapaknya lagi.

***

    Hari ini hari ketiga aku di Jakarta. Setelah melihat monas dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Jakarta, hari ini aku ingin berkunjung ke Menteng. Tempat yang disebut-sebut pernah disinggahi Presiden USA. Barack Obama. Sebagai seorang yang hobi traveling sepertiku selalu tertantang untuk berkunjung ke tempat-tempat seperti itu. Tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan orang-orang terdahulu.
    Kata pakde Jarwo dari kampung rambutan ke Menteng bisa ditempuh dengan menggunakan angkot atau bus. Aku memilih naik angkot saja, kerena dari kemarin aku selalu naik bus kota atau trans Jakarta. Ingin ganti suasana. Aku diantar pakde Jarwo ke pangkalan angkot karena letaknya searah dengan tempat kerja pakde. Lumayanlah, batinku.
     Di pangkalan angkot, aku mencari angkot M56. Aku mondar mandir  dan akhirnya ketemu. Sebelum masuk, aku memastikan lagi kepada pak sopir. “menteng pak?” tanyaku. “Iya mas” jawabnya. Di dalam angkot sudah ada 8 penumpang. Aku duduk di pojok. Sambil menunggu angkot penuh aku melihat sekelilingku. Aku melihat pak sopir yang sedang menghisap rokok ktretek tang tinggal separuh. Lalu sang kernet yang berteriak “Menteng Menteng”. Dan segala rupa dan tingkah laku penumpang. Semua sibuk dengan aktivitasnya. Tak ada percakapan di dalam angkot ini. Tak ada pula senyum sapaan. Seperti mimbisu. “Jakarta, pelan tapi pasti mengubah pribadi seseorang menjadi sangat individualis”. Pikiran negatifku tentang Jakarta muncul. Namun cepat cepat ku tepis. Sepuluh menit berlalu, angkot mulai penuh. “Ayo bang, berangkat sudah penuh”. Kata kernet mengingatkan. Tanpa menunggu lagi, angkot berangkat. Berjalan meninggalkan pangkalan. Menerobos kemacetan.
      Jam tanganku menunjukkan pukul 11 siang, dan angkot berhenti. Beberapa penumpang turun. Namun aku masih diam hingga pak sopir memberitahu bahwa ini sudah tiba di menteng. Aku kemudian beranjak turun dan tak lupa membayar.
      Aku berjalan tanpa arah, tapi bertujuan. Mengenal kampung kecil Obama.Ya. itu tujuanku. Setiap jalan yang kulalui selalu kuamati. Aku bertanya dari rumah A ke rumah B untuk mencari tahu dimana tepatnya presiden kulit hitam itu tinggal. Setelah lama mencari akhirnya ketemu. Jalan Haji Ramli No 16 RT11/15, Menteng Dalam. “Obama pernah tinggal disin dulu”. Celutuk seorang warga yang menjadi tour guideku mencari rumah obama. Setelah berbincang-bincang cukup lama aku pamit undur diri. Langit sore mulai menampakkan diri, ku lanjutkan lagi perjalananku. “Menteng, Jakarta, tak kusangka presiden dari negeri super power itu pernah tinggal disini di menteng dalam yang sempit.”  Gumamku dalam hati.
     Lelah mulai menghampiri. Aku ingin merebah lelah sebentar di taman menteng. Jaraknya cukup lumayan dari menteng dalam. Tak sampai satu jam aku telah tiba di taman menteng. Aku mencari posisi yang nyaman untuk aku duduki. Ketemu. Aku duduk di dekat perempatan di bawah pepohonan yang rimbun. Dari sini aku dapat melihat aktivitas di perempatan menteng. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan seorang anak kecil yang berdiri diatas trotoar sambil mengalungkan sebuah tulisan “Butuh uang cepat, Bapak saya sakit. Ginjal saya jual”. Aku mengamatinya lama.  Rasa penasaranku tak tertahan lagi. Aku bergegas menuju trotoar tempat anak kecil itu berdiri. Ketika aku mendekat, anak itu menatapku lama. Dan ia menawariku ginjalnya.
“Butuh ginjal bang? Ini saya jual. Lagi butuh duit cepet nih”. Kata anak kecil itu lantang.
Aku tidak langsung menjawab. Lalu aku tersenyum ramah.
“Namanya siapa dek?” tanyaku.
“Bima bang.” Jawabnya singkat.
Aku menjulurkan tanganku dan menyebut namaku “Doni”.
“Boleh abang bicara sama kamu, jangan takut abang gak jahat kok” Rayuku.
Bima menganguk. Lalu aku mengajaknya duduk ditempatku tadi. Disana aku meminta Bima bercerita apa yang sedang terjadi hingga dia melakukan hal konyol ini. Dia bercerita panjang lebar tentang sakit yang di derita bapaknya. Tentang kehidupannya. Tentang sekolahnya. Segalanya ia ceritakan kepadaku. Seolah-olah aku ini kakaknya.
“Dari kecil aku tinggal sama bapak bang, Ibuk sudah lama pergi”. Bima mulai bercerita.
“Bapak saya pensiunan PNS . sekarang cuma narik becak. Hidup kami tergantung pada uang pensiunan yang nggak seberapa dan ongkos menarik becak. Cukup untuk biaya sehari-hari. Sekarang bapak sakit. Butuh uang Makanya saya ngamen bang”. Lanjutnya.
“Sudah lama ngamen?’ tanyaku.
“Baru dua minggu bang, sebelum bapak kena asma saya yaa nggak ngamen. Saya ngamen untuk biaya operasi kecil bapak. Dan ini (sambil melihat tulisan yang ia gantung dilehernya) misi baru saya bang. Saya pengen cepet-cepet bawa bapak berobat. Uang mengamen nggak cukup bang.” Jawabnya.
“Kenapa harus ginjal?’ tanyaku lagi.
“Dua hari lalu saya baca koran bang, disitu ada berita yang isinya ada seorang anak yang menjual satu ginjalnya untuk menaikkan haji emaknya. Tanpa waktu yang lama. Emaknya bisa berangkat haji. Saya meniru itu bang. Siapa tahu bernasip baik” Jelas Bima.
“Memang, sudah menjadi kodratnya, harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di Jakarta”. Timpalku.
"Hidup di Jakarta memang keras bang, tapi saya tak pernah membenci Jakarta. Karena saya lahir di Jakarta bang, tanah yang saya injak pertama kali yaaa tanah Jakarta ini, orang boleh bilang apa saja tentang jakarta tapi saya selalu bangga dengan Jakarta" Jelas Bima dengan lantangnya.
Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Bima. “Anak ini, masih SD tapi perjuangannya, semangatnya, caranya hidup menghadapi keganasan Jakarta membuat ia lebih dewasa dari anak seusianya. Hebat !! ”. Pikirku dalam hati.
“Bang kok bengong?” Suara Bima membangunkan lamunanku.
“Eh iya. Hahaha. Oyaaa tentang sekolah kamu gimana?. Tanyaku.
Bima diam sejenak tak langsung menjawab. Ia menatapku lama lalu tersenyum. “Untuk urusan sekolah bisa dibilang lumayan bang, karena prestasi dan keadaan ekonomiku pihak sekolah memberiku beasiswa hingga aku lulus SD nanti. Walaupun saya ngamen. Sekolah tetep jadi yang utama bang. Saya pengen sekolah tinggi tapi gak mau keluar negeri.” Ujarnya.
Alisku mengerut mendengar ungkapan Bima. “Loh kok aneh? Kebanyakan anak sekarang kan pengen keluar negeri? Jangan bilang karena ekonomi keluarga susah jadi takut ke luar negeri”. Cetusku.
“hahaha. Ya enggaklah bang. Kata bapak ketika kita punya mimpi, jangan sesekali melihat siapa kita sekarang, bagaimana keadaan kita sekarang tapi lihat apa yang kita perbuat sekarang. Itu yang menentukan. Jadi walaupun sekarang saya susah saya gak takut bermimpi. Saya gak mau keluar negeri bang, disini aja cukup. Sayang kalo ninggalin Jakarta, ninggalin Indonesia. Banyak alasan untuk tetap disini. Pendidikan di Indonesia memang kurang bagus, tapi itu kembali ke diri kita sendiri, bagaimana mensiasatinya begitulah kata guru saya bang. Ungkap Bima
“hhhmm emang Bima pengen jadi apa?” Lagi- lagi aku bertanya.
Tanpa berpikir lagi, Bima menjawab. “Saya pengen jadi presiden kayak   Pak SBY bang. Pengen nerusin perjuangan Pak SBY menata Indonesia.  Heheheee”.  Aku tersenyum dan tak bertanya lagi.
Di taman menteng ini, di bawah pohon nan rimbun ini Bima bercerita kisah dam mimpinya kesana-kemari. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya. Tak tererasa matahari mulai pergi. Siang yang terik akan menjadi gelap kerena malam.
“Sudah mau maghrib bang, Saya harus pulang ngerawat bapak lagi.” Pamit Bima penuh makna.
“Iya nih, mulai gelap. Salam yaa buat bapak kamu”. Balasku singkat,
“Oke baaaang. Makasih ya bang mau ndengerin ceitaku. Padahal kita baru kenal. Besok abang mau nggak main kesini lagi?”. Ucap Bima penuh harap.
“Boleh tapi semua inigak gratis looo, ada syaratnya.” Candaku.
“Apa syaratnya bang?” Tanya Bima keheranan.
“Besok kalo kesini lagi jangan bawa tulisan yang kamu kalungin itu yaaaaa”. Kataku tegas.
“Kenapa bang? Nanti saya dapet uang darimana?” tanyanya lagi.
“Besok abang kasih tau caranya. Sekarang Bima pulang dulu”. Bujukkku padanya.
Terlihat jelas di raut mukanya kalau ia bingung. Tersirat bahwa Bima ingin memperpanjang percakapannya denganku. Namun disisi lain ia tak bisa lama-lama lagi, bapaknya pasti menantinya di rumah. Maka ia beranjak pulang. Akupun demikian.

***

     Aku duduk di taman belakang rumah Pakde Jarwo, menikmati sinar rembulan yang mematung diangkasa. Ditemani secangkir tehbuatanku sendiri. Aku melamun, pikiranku kembali pada kejadian di Taman Menteng siang tadi. Sosok anak laki-laki dengan dandanan kumal dan senyum yang selalu merekah di wajahnya memenuhi otakku. Sosok Bima.. Dari tadi aku memutar otak. Mencari titik terang untuk membantu Bima. Namun suram, aku kehabisan akal.  
“Ngelamun apa kamu Don?” suara pakde Jarwo yang telah duduk di sampingku.
“eh Pakde. Aku mikirin kejadian tadi siang di Taman Menteng”. Jawabku.
“Taman Menteng? ada kejadian apa?” Tanya pakde penasaran.
Aku menceritakan semuanya tentang Bima, Tak kurang dan tak lebih. Aku bercerita apa adanya. Pakde sangat antusias mendengar ceritaku. Aku juga bercerita bahwa aku telah berjanji pada Bima memberithunya cara cepat mendapat uang selain misi konyolnya itu.
“Pakde punya usul  Don, kamu adain aja pertunjukkan jalanan. Kamu kan jago dance. Ajak Bima dan temen-temennya. Pasti akan menarik perhatian, banyak yang datang dan banyak juga yang nyemplungin recehan. Tapi gak cukup sehari, paling nggak lima hari bisa ngumpul banyak. Kamu juga kan disini masih lama” Jelas pakde panjang lebar.
Aku tak menjawab hanya tersenyum, memangut-mangut tanda setuju. Ide pakde Jarwo ini membuatku lega. “ Akhirnya, Semoga berhasil”. Harapku dalam hati.

***

     Esok harinya aku menepati janjiku. Aku datang lagi ke Taman Menteng. Aku duduk ditempat yang sama, menunggu Bima. Lima menit Sepuluh menit tak kelihatan batang hidungnya. Baru setengah jam kemudian Ia datang. Dan sesuai permintaanku, Bima tak lagi mengalungkan misi konyolnya. Tanpa basa basi aku langsung menceritakan pada Bima sebuah misi baru yang lebih masuk akal tentunya. Senyuman bangga tampak diwajah Bima ketika mendengar aku berdalih Mungkin baginya aku seperti pak SBY sedang berpidato. Pada hari itu juga aku dan Bima menyusun strategi agar misi kita berjalan baik. Ya, misi kita. Aku dan anak Jakarta ini.
“oyaaa bang, kenapa Bima gak boleh jual ginjal. Kan ada dua ginjal?” Tanya Bima tiba-tiba.
Aku tak langsung menjawab aku memikirkan kata yang tepat.
“Perlu Bima tau yaaaa, semua yang dalam diriki kita itu sangat berharga. Termasuk ginjal. Karena sangat beharganya jadi sayang kalo cuma ditukar dengan lembaran rupiah. Jadi jangan lagi-lagi punya ide buat jual ginjal”. Kataku bersahabat.
Bima membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman khasnya. Strategi telah disusun, sekarang waktunya mengomtimalkan tenaga. Karena besok adalah hari yang istimewa.

***

     Pukul 3 sore. Taman Menteng masih sama seperti hari-hari kemarin. Ramai. Hari ini Taman menteng akan menjadi saksi bisu pengaplikasian misiku pertama kali. Aku telah siap dengan segala peralatanku. Di ujung taman aku melihat Bima dan teman-teman berbondong-bondong menuju ke arahku. Mereka seperti pasukan Diponegoro yang siap berperang. Sebelum memulai, kami berdoa dulu agar semuanya lancar.  Doa selesai. Dan mulai beraksi. Musik diputar dari tape recorder yang aku pinjam dari pakde Jarwo, tak lupa speakernya. Aku menjadi patokan, Bima dan teman-temanya menirukan gerakkanku. Cukup energic dan kompak. Tak sampai satu jam orang-orang telah mengerubungi kami. Seperti kerumunan semut. Dan mereka mulai melempar recehan mereka ke kotak yang bertuliskan “untuk bapak” yang telah kami siapkan sebelumnya. Satu jam telah berlalu, kotak yang kosong telah penuh koin dan kertas yang berlebel rupiah. Sesuai perjanjian, setiap kali tampil, kami membagi hasil. Bima mendapat 50% dan 50%nya lagi untuk teman-teman Bima. Sengaja dibagi seperti itu, karena memang tujuannya untuk mermbantu Bima Dan aku menolak ketika aku disuruh ambil bagian juga, menurutku mereka yang  lebih butuh, apalagi si Bima. Hari pertama diluar dugaanku dan aku sangat bersyukur.Setalah pembagian  hasil, temen-teman Bima pamit pulang. Tinggal aku dan Bima.
“Nggak nyangka bang, baru sehari udah dapet segini.” Kata Bima membuka pembicaraan
“Iya Bim.” Jawabku singkat.
“Semoga besok juga yaa bang.” Ucap Bima lagi. Aku mengamini dalam hati. Bima cukup puas dengan hari ini.

***

     Tak terasa hari ini hari terakhir menjalankan misi. Sesuai jadwal, hari ini kami unjuk diri di sekitaran Monas. Semuanya lancar dan penampilan kami membanggakan. Kami kembali ke Menteng. Sebelum pulang, aku dan Bima menyempatkan diri mengobrol di  Taman Menteng.
“Utangku lunas yaaa Bim”. Kataku membuka pembicaraan.
“hahaha makasih yaaa bang, semua ini berarti banget buat Bima. Hasil uang ngamen dan ongkos joget-joget ini sudah cukup.  Rencananya besok Bima langsung bawa bapak ke rumah sakit. Dan segera di operasi. Semoga belum terlambat” ujarnya.
“Yaaa semoga. Berdoa saja. Allah akan memberikan yang terbaik”. Kataku mengakhiri.
Semenjak ketemu Bima aku belum sekalipun bersambang ke rumahnya. Tak pernah berjumpa dengan Bapaknya.  Tapi hari ini juga aku akan mengantar Bima pulang dan melihat keadaa Bapaknya. Sebelum besok aku pulang. Meninggalkan Jakarta.

***

     Pagi ini cukup cerah. Sinar matahari masih lembut memancarkan kehangatan. Namun ada perasaan sedih dalam diriku,  aku tidak menemani Bima mengantarkan Bapaknya. Hari ini aku bertolak meninggalkan Jakarta. Semalam aku telah berpamitan pada Bima dan meminta maaf tak bisa menemani. Bima kecewa, tapi Ia mau mengerti. Aku sudah bersiap. Pakde Jarwo mengantarku ke stasiun Pasarsenen. Aku masuk kedalam gerbong, berjalan mencari tempat duduk sesuai dengan tiket. Aku duduk. Kereta mulai bergerak meninggalkan pasarsenen. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada telepon masuk, tapi aku tak mengenali nomernya.
“Halo bang, ini Bima. Operasinya lancar Bang. Asma yang hinggap di Tubuh bapak sudah lenyap. Bapak sembuh bang. Bisa narik becak lagi. Semua berkat abang.”. Suara Bima dari ujung telephone seperti pembalap.
“Alhamdulillah abang ikut seneng. Bukan berkat abang. Tapi berkat Allah swt. Abang cuma perantara saja. Sudah ditakdirkan seperti ini.” Jelasku seakan menggurui. Dalam hatiku aku sangat senang. Tak sia-sia, usahaku bermanfaat untuk orang lain.
“Iya bang tak luput dari ridho Allah Swt. Kapan-kapan main ke Menteng lagi  yaaa, jangan kapok ke Jakarta”. Ujar Bima dengan gurau.
“Iyaaaa pas…” Tuuut….tuuuut…. belum selesai aku bicara sudah terputus. Mungkin Bima telpon dari wartel dan jaringannya terganggu. Pikirku.
     Aku kembali menikmati perjalananku. Gedung – gedung tinggi mulai tak terlihat. Bersama hembusan angin dari jendela kereta aku mengenang kembali pengembaraanku selama di Jakarta. Sosok Bima yang mendominasi ingatanku. "aaaah Bima, Anak sekecil itu mengajariku banyak tentang hiruk pikuknya kehidupan. lewat kisahnya aku tau bahwa hidup itu tak bisa dilihat dari satu sisi. Dan Bima, walaupun hidupnya disini jauh dari kata sejahtera, Ia selalu bangga dengan Negeri sendiri, apalagi Jakarta tanah kelahirannya. Tak cukup Obama, Menteng punya cerita baru". Kataku dalam hati sambil tersenyum.
     Keretaku mulai memasuki Jawa Barat. Gedung pencakar langit tak terlihat lagi. Kali ini aku disuguhi hamparan sawah yang luas. Hijau yang menenangkan. Sesekali kulihat petani yamg melambai kearah kereta. Anak-anak kecil menggiring kambing.  Aku tak mampu berkata lagi. Selama aku berkelana ke banyak kota, baru ini yang paling bermakna. Jakarta.


***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar