namaku Mendung Wiryotedjo, aku lahir dan dibesarkan dari keluarga yang tidak miskin tidak kaya tapi sederhana, sesederhana namaku. Hingga aku besar, aku tak pernah menanyakan apa makna dibalik namaku. jika kau bersedia, maukah kamu mencari tahu untukku apa makna dari Mendung Wiryotedjo? soal nama sudah lupakan, kamu cukup memanggilku mendung.
aku ingin bercerita padamu, cerita mengenai dialog-dialog singkatku dengan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku, dia adalah ibuku. perlu kau tahu, ibuku adalah seorang perajin tas anyaman. Beliau mengajariku untuk selalu ikhlas dan selalu mengatakan tidak dalam berkeluh kesah menjalani hidup :))
sore itu sepulang mengaji, aku duduk bersila di bawah ibu yang sedang menganyam diatas kursi. aku memulai bercerita tentang sekolah dan meluas hingga apa yang aku inginkan. akan ku tuliskan padamu dialog-dialog singkatku bersama ibuku.
Mendung : bu, adek mau jadi seperti mbak Najwa Shihab
Ibu : harus pinter kalo mau jadi kayak dia dek. adek ndak mau jadi PNS?
Mendung : adek pengen kayak mbak Najwa gitu bu, kalo gak gitu kayak Anita Rahma. pokoknya bisa ngobrol sama orang2 penting. Pak Habibie, Pak Jokowi, Bu Mega. ngobrol sama petinggi-petinggi negeri itu luar biasa kayaknyaaa.
Ibu : kerja gituan kan ada batasan usianya dek, kalo tua masak masih dipake? enak jadi PNS terjamin dek.
Mendung : iya kan itu cita-citanya ibu dari dulu, jadi PNS terjamin dapet tunjangan sana-sini.
Ibu : nah gitu tahu.
Mendung : tapi kan gak ada salahnya aku nyobain jadi mbak najwa, semua kan ada prosesnya.
Ibu : dari pada adek jadi yang mewawancarai, apa gak enak jadi yang diwawancarai?
Mendung : hahahaha ibu bener, tapi enggak entar aja, nanti juga ada gilirannya buat diwawancarai. hahaha
Ibu : inget gak dulu waktu adek masih kecil cita-citanya apa?
Mendung : haha inget kok, jadi presiden kan?
Ibu : apa sekarang gak pengen jadi presiden, membangunkan lagi cita-cita yang telah telelap?
Mendung ; gimana ya bu, bingung nih. liat nanti aja buuuu. yang minta ibu gak bosen-bosen buat ngedoain adek demi masa depan adek. kalo jadi presiden nanti mau ganti nama ah masak presiden mendung... entar dikiranya suram terus kan repot bu.
Ibu : kamu lupa yaaa dek, kan gak selama mendung itu hujan, gak selamanya mendung itu penuh kesuraman. ibu sama bapak ngasih nama kamu gak sembarangan looo. suatu saat kamu bakal tahu artinya.
Mendung : iya buuuu. mendung ngerti kok.
Ibu : inget sebuah nama sebuah cerita, dan kita itu yaaa sutradara untuk nama kita sendiri. jangan pernah bangga nama kita dikenal karena kita ini anak siapa, baru bangga kalo nama kita dikenal karena apa yang ada dalam diri kita. contoh realnya yaaa mbak Najwa Shihab itu. dia mulai dari nol hingga tenar sekarang ini, pak Habibie, pak Jokowi, semua juga sama.
Mendung : akan Mendung terbitkan sebuah buku berjudul Mendung Wiryotedjo suatu hari nanti. karena sebuah nama sebuah cerita.
itulah ibuku, dia selalu punya beribu cara menyenangkan hati anak semata wayangnya ini. suatu hari kau akan ku kenalkan dengan sosok bapakku yang tak kalah menginspirasiku.
Salam Hangat dari ku,
Mendung Wiryotedjo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar