aku mengagumi sosokmu sejak SMA, untuk urusan hati aku termasuk dalam kategori cemen. aku selalu diam diam mencintai padahal sekarang ini udah gak jaman lagi. aku sadar diri, aku penuh keburukan tak semenawan wanita-wanita pilihanmu dulu. itu salah satu alasan kenapa aku lebih suka memendam daripada mengutarakan, rasanya percuma.
seperti kebanyakan wanita lainnya, yang ketika mendapat short message dari si dia mereka bahagia, bahagia sekali. aku akui aku tak ubahnya dengan mereka, mungkin ini sudah menjadi bagian dari seorang wanita yang sedang jatuh cinta, mungkin. aku selalu menyimpan pesan singkatmu dalam sebuah arsip. kadang, jika rindu menghujam tanpa henti aku sangat antusias membaca ulang pesan singkatmu dan itu selalu membuatku tersenyum sendiri seperti orang gila.
aku dan kamu terpisah jarak, ruang dan waktu. tapi aku punya seribu satu cara untuk mengupdate keberadaanmu. tak jarang aku selalu membuka akun-akun jejaring sosial milikmu untuk tahu apa aktivitasmu saat ini. bahasa kasarnya aku diam-diam memata-mataimu. ketika aku sedang membebaskan jariku untuk menulis kiriman ini aku masih saja mencuri waktu mengintip facebookmu :))
hanya ada satu orang kawan yang tahu siapa kamu disini. tapi sayangnya dia tak mendoakan agar kamu bersanding denganku. dan itu lagi-lagi yang membuatku pesimis untuk memperjuangkanmu sayang. kata dia aku tak sebanding dengan wanita-wanita pilihanmu dulu yang begitu rupawan. aku tak menyangkal memang kenyataan berkata demikian.
suatu hari, aku ingin memutuskan untuk tak mengharapkanmu lagi, melupakan semua perasaan yang pernah ada untuk sosok sepertimu. keinginan itu dapat berjalan, tapi sayangnya ia pincang. aku memang bertekad untuk menetralkan kembali perasaanku padamu, tapi aku selalu terhasut bisikan-bisikan absurd untuk mengingatmu kembali, mengkepoi jejaring sosialmu kembali, menanyakan kabarmu kembali lewat sebuah pesan singkat. ini tak terjadi sekali tapi sudah berkali kali.
Hari ini aku menghubungimu lagi. berbeda dari biasanya, kapasitas pengiriman pesan singkat ini berlangsung lama dan mengasikkan, bagiku tentunya. dan seperti yang aku bilang tadi, aku selalu mengarsipkan pesanmu. berlebihan bukan? aku hanya berpikir, bila nanti aku tak bisa mendapatkanmu, aku masih bisa membaca pesan singkatmu yang selalu membuatku terseyum. itu saja. dari perbincangan aku dan kamu saat ini, aku menyimpulkan sendiri bahwa kamu masih seperti yang lalu tak merasakan keberadaanku, tak bisa melihat kehadiranku. untuk seorang pesimistis dalam cinta sepertiku tak masalah. aku akan selalu berdamai dengan kenyataan. itu yang harus aku tancapkan mulai saat ini. tapi rasanya tak semudah aku menuliskan ini.
siapapun wanita yang kau pilih saat ini, tolong berikan sepintal doa untukku agar aku selalu bahagia tanpa kamu.
gudang kegalauan, 30 Feb 2030
dwitasari bgt cak huahahaha
BalasHapusapasih raaaazk -_____-
Hapusaduuuh :3
BalasHapuskenapaaaaa?
Hapus