Sabtu, 05 Juli 2014

tiga belas

Hai,tiga belas.
Apa Kabar? aku harap kamu baik-baik saja ya. Amin

Demi pena yang aku torehkan pada kertas kosong, ingin ku ucap.
Aku rindu kamu. Sangat rindu.
Kamu adalah teman terasik yang pernah mengisi hidupku.
Kita didekatkan karena orang ketiga. Lucu ya?
Aku masih ingat betul, ketika kamu fasih bercerita tentang dia. hihihi
Kamu selalu saja ingin tahu kabar terbaru dari dia.
Dia yang mencuri hatimu semenjak kita masih dalam fase 4L4Y hingga alumni hehehe
Kau memang paling bisa menjaga rasa, dan itu penyakit yang kamu tularkan padaku, aku merawatnya dengan baik.

Yang aku ingat lagi. Kecintaannmu pada sepak bola.
Kamu menggandrungi Spanyol.
Club Favoritmu Arsenal.
Jagoanmu Cegs Fabregas.
Tapi kamu juga pendukung setia timnas Garuda.
Kamu yang mengajariku tentang Nasionalisme dari sudut yang berbeda.
Kamu juga suka bikin aku gemas saat tim-tim andalan kita bermain di lapangan hijau.
Kamu teman debat bola nomer satu dan tiada duanya, apalagi tiga.
Karena kecintaanmu terhadap bola, sekarang kamu menjadi kiper kebanggaan di sebuah club futsal andalan sekolahmu. Iya kan?
Ah, semua tentangmu masih terlipat rapi dalam lemari otakku.

Sekarang...........
Tak ada komunikasi lagi diantara kita.
Aku menerobos masa lalu, mengingat-ingat apa yang membuat kita jauh.
Jauh sekali.
Bahkan diajang Piala Dunia 2014 yang riuh, aku merasa sepi.
Tak ada yang aku bercengkrama ria.
Seandainya ada kamu, aku akan bilang "hahaha kasian yaa juara bertahan harus angkat koper"
dan kamu yang biang kreatif pasti punya seribu satu stetment untuk menyangkal itu. hahahaha
Kapan ya terulang lagi?

oh ya hampir saja lupa.
Aku penah nulis bio di twitter isinya angka 13.
Kamu tanyakan aku apa maksudnya. Lewat sebuah pesan singkat.
Kamu yang selalu peka ini mengira itu buat kamu, karena 13 nomer absen favoritmu, kamu takut jika aku punya rasa lebih. Karena sejatinya kita hanya berteman.
Aku hanya tersenyum saja membacanya.
Lalu aku membalas "13 itu awalan seseorang yang aku damba, bukan kamu. tenang saja aku tak pernah suka padamu"
dan kamu hanya menjawab "syukurlah kalo begitu, cerita dong siapa"
tapi aku tak membalasnya. aku tak ingin menulis sebuah kebohongan lagi.



Musim bola tak pernah gagal mengantarku pada bayangmu, karena itu tulisan ini tercipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar