Kata orang hidup itu perjalanan, bukan pelarian. Sengaja aku memilih berjalan, agar aku mempunyai banyak waktu untuk memantaskan diri. Aku berjalan dengan penuh kehati-hatian. Aku tidak ingin jatuh dan terluka. Bekasnya susah untuk hilang. Itu saja.
Tujuan perjalananku kali ini adalah ke rumahmu.
Kenapa rumahmu? Karena rumahmu adalah yang kedua yang memberiku kenyamanan setelah rumahku sendiri, tentunya. Dari awal aku sudah menyadari, jalan menuju rumahmu itu tak mudah. Aku harus melewati empat tembok penghalang yang sengaja kau pasang. Ada rasa ingin mundur, tapi heart to headku berkata maju!
Tembok pertama kamu beri penjaga seekor kucing gendut dengan ekor panjang dan bulu menawan, kucingmu ini memiliki sembilan nyawa.
Tembok kedua kamu beri penjaga seorang bidadari yang begitu sempurna. parasnya cantik luar biasa. penuh keanggunan dan dia sangat pandai.
Tembok ketiga tidak ada penjaga, tapi hampir semua tembok di penuhi mawar berduri dengan warna-warna yang mengindahkan mata. Dan harumnya senantiasa melekat.
Tembok keempat dijaga angsa putih yang mempesona, penuh kelembutan, siapa saja yang melihatnya akan terlena.
Dalam putaran waktu, aku tetap berjalan. Aku tak melawan mereka karena aku takut.
Aku tak melawan si kucing, aku takut dengan cakarnya yang selalu juara membuat kulitku berdarah. Aku hanya pasrah, menunggu bersama waktu agar kucing itu mati sendiri.
Aku tak melawan si Bidadari, aku takut menjadi musuhnya. Aku hanya pasrah, menunggu bersama waktu agar sang bidadari kembali ke kahyangan dengan sendiri.
Aku tak merusak mawar-mawar cantikmu, aku takut durinya akan mencederaiku sama seperti cakaran kucing. Lagi-lagi aku hanya pasrah, menunggu bersama waktu agar aku menyaksikan sendiri mawar-mawarmu layu.
Aku tak melawan angsa putihmu, aku takut menatapnya karena aku tak ingin terlena. Dan untuk kesekian kalinya aku hanya pasrah, menunggu bersama waktu membiarkan angsa putih punah sendiri.
Diam, pasrah dan menunggu adalah senjata andalanku. bukan kah aku ini pecundang sejati? aku hanya tak ingin ada yang terluka dan merusak apa yang telah kau bangun, itu saja. Entahlah, pada detik keberapa aku bisa menembus empat penghalang menuju rumahmu. Aku jadi tahu lebih dalam tentangmu. mengasikkan bukan?
Dan pada hari ini (aku lupa ini sudah hari ke berapa, mungkin sudah ribuan) aku telah sampai di depan rumahmu. Oh betapa bahagianya aku hari ini. Seperti mimpi saja. Berulang kali ku cubit pipiku, dan rasanya sakit. berarti ini bukan mimpi. Oh Tuhaaaaaan ini kah jawaban atas penantian panjangku? aku berhasil menuju rumahmu. aku berhasil. Ku perhatikan sekitar, ternyata pintu rumahmu terkunci. Aku mengetuk pintumu dengan sangat sopan, aku tak ingin mengagetkanmu. Tak ada jawaban. Aku mengintip pada lubang pintu, tak ku temukan sosokmu. Aku bergeser ke jendela, tapi sama saja nihil. Aku tak menyerah. Aku berfikir positif, kamu ada mungkin sedang tidur atau apalah yang membuatmu tak mendengar bahwa diluar ada tamu. Aku mengendap menyusuri sisi samping rumahmu. Dan Aku mendapatimu. Aku kembali ke depan pintu rumahmu, kali ini ketukan dan suaraku agak ku keraskan agar kamu bisa mendengar. Lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam. Hanya daun kering yang jatuh dari pohon yang aku dengar. Ku coba sekali lagi, masih saja sama.
Dalam hati aku bertanya, hingga kapan kau membiarkan aku menunggu di depan pintu? aku tahu kau ada di dalam. Aku sudah lelah menunggu selama ini, tak bolehkah aku masuk untuk sekedar minum seteguk air? atau mungkin kau bisa mengintip dari balik jendela lalu kau simpulkan senyum padaku agar lelahku runtuh seketika itu juga. Apa kau lupa adab menerima tamu?
sumpaah kereen deb :)
BalasHapusterima kasih yaaa sudah membacaa ndaah :))
HapusTOP !
BalasHapusmakasih yaaaa nenek :))
Hapusi love u mbak deb {}
BalasHapuslove you tooo erin :))
Hapus